Ulasan Singkat Dari Perjalanan Sejarah Periodisasi Tarikh At-tasyri Islam

Ulasan Singkat Dari Perjalanan Sejarah Periodisasi Tarikh At-tasyri Islam

Almunawwar.or.id – Catatan sejarah yang terjadi dalam perjalanan Islam dari semenjak Rasululloh S.A.W sampai dengan saat ini memang memiliki perjalanan yang begitu penting dan sangat fenomenal untuk diketahui oleh segenap umat muslimin di seluruh dunia.

Khususnya dalam menerapkan hukum islam pada sistem kenegaraan dalam wilayah yang di bawah oleh para pemimpin tersebut. Perjalan panjang yang di ukir dengan begitu istimewa ini adalah bagian penting bagi segenap umat muslimin untuk lebih mengenal lebih jauh dan lebih luas peta yang terjadi dalam sejarah Islam tersebut sampai dengan saat ini.

Atau yang lebih dikenal dengan sejarah periodisasi tarikh attasyri islam yang ada pada zaman Rasululloh S.A.W yang diteruskan oleh para sahabat juga para Ulama sampai dengan saat ini. Dan berikut ulasan singkat mengenai sejarah panjang dari sistem periodiasi dalam perkembangan hukum islam dari masa ke masa.

Dalam bagian ini para Ulama Fiqih kontoporer membagi dua cara terbaik dalam menyusun peradaban sejarah hukum islam yang terbagi dalam dua cara atau bagian, yaitu:

Cara pertama, periodisasi pembentukan hukum (fiqh) Islam oleh Syekh Muhammad Khudari Bek dalam bukunya, Tarikh at-Tasyri’ al-Islamy (Sejarah Pembentukan Hukum Islam). Ia membagi masa pembentukan hukum (fiqh) Islam dalam enam periode.

1. Periode awal yaitu sejak Muhammad bin Abdullah diangkat menjadi rasul
2. Periode para sahabat besar
3. Periode sahabat kecil danthabi’in
4. Periode awal abad ke-2 H sampai pertengahan abad ke-4 H
5. Periode berkembangnya mazhab dan munculnya taklid mazhab
6. Periode jatuhnya Baghdad (pertengahan abad ke-7 H oleh Hulagu Khan [1217-1265]) sampai sekarang.

Selanjutnya cara kedua menurut Syeikh Mustafa Ahmad az-Zarqa dalam bukunya, al-Madkhal al-Fiqhi al-‘Amm (Pengantar Umum fiqh Islam). Ia membagi periodisasi pembentukan dan pembinaan hukum Islam dalam tujuh periode. Ia setuju dengan pembagian Syekh Khudari Bek sampai periode kelima, tetapi ia juga membagi periode keenam menjadi dua bagian, yaitu:

1. Periode sejak pertengahan abad ke-7 H sampai munculnya Majalah al-Ahkam al-‘Adliyyah (Hukum Perdata Kerajaan Turki Usmani) pada tahun 1286 H; dan 2.Periode sejak munculnya Majalah al-Al-Akam al-‘Adliyyah sampai sekarang.

Nah tujuan daripada pembagian cara tersebut adalah sebagai bagian penting bagi umat islam pada umumnya dalam memudahkan cara mengetahui peta sejarah yang terjadi pada kepemimpinan semenjak islam itu di syari’atkan oleh Baginda Rasululloh S.A.W agar tidak ada lagi kesimpangsiuran dalam memahaminya terutama dalam menerapakan hukum islam pada sebuah wilayah kekuasaan.

Seperti berikut ini adalah sejarah pembentukan hukum Islam menurut Mustafa Ahmad az-Zarqa adalah sebagai dari masa ke masa sampai dengan saat ini menurut periodisasi yang berjalan.

Periode Pertama
Masa Rasulullah SAW. Pada periode ini, kekuasaan pembentukan hukum berada di tangan Rasulullah SAW. Sumber hukum Islam ketika itu adalah Al-Qur’an. Apabila ayat Al-Qur’an tidak turun ketika ia menghadapi suatu masalah, maka ia, dengan bimbingan Allah SWT menentukan hukum sendiri.

Yang disebut terakhir ini dinamakan sunnah Rasulullah SAW. Istilah fiqh dalam pengertian yang dikemukakan ulama fiqh klasik maupun modern belum dikenal ketika itu. ilmu dan fiqh pada masa Rasulullah SAW mengandung pengertian yang sama, yaitu mengetahui dan memahami dalil berupa Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah SAW.

Periode Kedua
Masa al-Khulafa’ ar-Rasyidin (Empat Khalifah Besar) sampai pertengahan abad ke-l H. Pada zaman Rasulullah SAW para sahabat dalam menghadapi berbagai masalah yang menyangkut hukum senantiasa bertanya kepada Rasulullah SAW. setelah ia wafat, rujukan untuk tempat bertanya tidak ada lagi.

Oleh sebab itu, para sahabat besar melihat bahwa perlu dilakukan ijtihad apabila hukum untuk suatu persoalan yang muncul dalam masyara’at tidak ditemukan di dalam Al-Qur’an atau sunnah Rasulullah SAW. Ditambah lagi, bertambah luasnya wilayah kekuasaan Islam membuat persoalan hukum semakin berkembang karena perbedaan budaya di masing-masing daerah.

Periode Ketiga
Pertengahan abad ke-1 H sampai awal abad ke-2 H. Periode ini merupakan awal pembentukan fiqh Islam. Sejak zaman Usman bin Affan (576-656), khalifah ketiga, parasahabat sudah banyak yang bertebaran di berbagai daerah yang ditaklukkan Islam. Masing-masing sahabat mengajarkan Al-Qur’an dan hadits Rasulullah SAW kepada penduduk setempat.

Di Irak dikenal sebagai pengembang hukum Islam adalah Abdullah bin Mas’ud (Ibnu Mas’ud), Zaid bin Sabit (11 SH/611 M-45 H/665 M) dan Abdullah bin Umar (Ibnu Umar) di Madinah dan Ibnu Abbas di Makkah. Masing-masing sahabat ini menghadapi persoalan yang berbeda, sesuai dengan keadaan masyara’at setempat.

Periode Keempat
Pertengahan abad ke-2 sampai pertengahan abad ke-4 H. Periode ini disebut sebagai periode gemilang karena fiqh dan ijtihad ulama semakin berkembang. Pada periode inilah muncul berbagai mazhab, khususnya mazhab yang empat, yaitu Mazhab Hanafi, Mazhab Maliki, Mazhab Syafi’i dan Mazhab Hanbali.

Pertentangan antara Madrasah al-hadits dengan Madrasah ar-ra’yu semakin menipis sehingga masing-masing pihak mengakui peranan ra’yu dalam berijtihad, seperti yang diungkapkan oleh Imam Muhammad Abu Zahrah, guru besar fiqh di Universitas al-Azhar, Mesir, bahwa pertentangan ini tidak berlangsung lama, karena ternyata kemudian masing-masing kelompok saling mempelajari kitab fiqh kelompok lain.

Periode Kelima
Pertengahan abad ke-4 sampai pertengahan abad ke-7 H. Periode ini ditandai dengan menurunnya semangat ijtihad di kalangan ulama fiqh, bahkan mereka cukup puas dengan fiqh yang telah disusun dalam berbagai mazhab.

Ulama lebih banyak mencurahkan perhatian dalam mengomentari, memperluas atau meringkas masalah yang ada dalam kitab fiqh mazhab masing-masing. Lebih jauh, Mustafa Ahmad az-Zarqa menyatakan bahwa pada periode ini muncullah anggapan bahwa pintu ijtihad sudah tertutup.

Periode Keenam
Pertengahan abad ke-7 H sampai munculnya Majalah al-Ahkam al-‘Adliyyah pada tahun 1286 H. Periode ini diawali dengan kelemahan semangat ijtihad dan berkembangnya taklid serta ta’assub (fanatisme) mazhab.

Penyelesaian masalah fiqh tidak lagi mengacu pada Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah SAW serta pertimbangan tujuan syara’ dalam menetapkan hukum, tetapi telah beralih pada sikap mempertahankan pendapat mazhab secara jumud (konservatif). Upaya mentakhrij (mengembangkan fiqh melalui metode yang dikembangkan imam mazhab) dan mentarjih pun sudah mulai memudar.

Periode Ketujuh
Sejak munculnya Majalah al-Ahkam al- ‘Adliyyah sampai sekarang. Ada tiga ciri pembentukan fiqh Islam pada periode ini, yaitu:
1. Munculnya Majalah al-Ahkam al-‘Adliyyah sebagai hukum perdata umum yang diambilkan dari fiqh Mazhab Hanafi;
2. Berkembangnya upaya kodifikasi hukum Islam; dan
3. Munculnya pemikiran untuk memanfaatkan berbagai pendapat yang ada di seluruh mazhab, sesuai dengan kebutuhan zaman.

Munculnya kodifikasi hukum Islam dalam bentuk Majalah al-Ahkam al-‘Adliyyah dilatarbelakangi oleh kesulitan para hakim dalam menentukan hukum yang akan diterapkan di pengadilan, sementara kitab-kitab fiqh muncul dari berbagai mazhab dan sering dalam satu masalah terdapat beberapa pendapat.

Memilih pendapat terkuat dari berbagai kitab fiqh merupakan kesulitan bagi para hakim di pengadilan, di samping memerlukan waktu yang lama. Oleh sebab itu, pemerintah Turki Usmani berpendapat bahwa harus ada satu kitab fiqh/hukum yang bisa dirujuk dan diterapkan di pengadilan.

Itulah ulasan singkat mengenai sejarah daripada periodisasi yang terjadi pada perkembangan penerapan hukum islam sampai dengan saat ini. Untuk lebih detail dan lebih jelasnya mengenai fakta sejarah tersebut, bisa mengunjungi langsung link ini http://www.piss-ktb.com/2012/02/314-periodisasi-tarikh-at-tasyri-islam.html.

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
piss-ktb.com
almunawwar.or.id