Ulasan Singkat Mengenai Fakta Dan Sejarah Lahirnya Ulumul Quran

Ulasan Singkat Mengenai Fakta Dan Sejarah Lahirnya Ulumul Quran

Almunawwar.or.id – Dalam fakta dan sejarahnya ilmu-ilmu yang lahir dan berkembang di dunia islam itu tidak lepas dari peranan penting seorang tokoh agama, sehingga dengan seiring berjalannya waktu maka sejarah pun berlankut sampai dengan saat ini seperti salah satunya sejarah munculnya istilah ulumul quran.

Atau dalam istilah lain adalah ilmu-ilmu yang mengkaji tentang ketentuan yang berkaitan erat dengan Alquran seperti dari asbabu nuzul, pengertian dari pelaksanaan dan pengamalannya sampai dengan tata cara membaca Alquran ayang baik dan benar sesuai dengan kadiahnya.

Dan makna dari histori ini penting kiranya untuk kita fahami secara jauh dan mendalam, mengingat selain sebagai pedoman, sumber kehidupan bagi umat islam, Alquran juga merupakan sebuah wahyu dan mukzijat yang diberikan kepada Nabi Muhammad S.A.W yang di syariatkan kepada umatnya.

Untuk itu memahami dan mengamalkan apa yang ada dalam Alquran tersebut adalah sebuah kewajiban yang harus senantias di laksanakan secara kafah (menyeluruh) di semua hidup dan kehidupan umat islam. Dan berikut ulasan singkat mengenai sejarah lahirnya ulumul quran.

1. Pengertian Sejarah
Sejarah secara etimologi dapat ditelusuri dari asal kata sejarah yang sering dikatakan berasal dari Arab syajarah, artinya “pohon”. Untuk menyebut sejarah dalam ilmu pengetahuan sebetulnya berasal dari bahasa Yunani (istoria) yang berarti pengetahuan tentang gejala-gejala alam, khususnya manusia yang bersifat kronologis.

2. Pengertian Qur’an
Ulumul Qur’an adalah susunan idhafah yang terdiri dari kata Ulum dan kata Al- Qur’an. Hal ini menuntut kita agar mengetahui dua kata di atas masing-masing, baik dari segi bahasa (leksikal) maupun dari segi istilah (gramatikal), kemudian perlu dijelaskan pengretian yang dimaksud dengan rangkaian kata-kata yang tesusun secara idhafi.

Ulum dari jamak dari beberapa ilmu yang saling berkaitan antara lain ilmu bahasa arab (meliputi ilmu nahwu, saraf, bayan, badi’, balaghah, ‘arudh, dan sebagainya,- ed), ilmu-ilmu eksak (meliputi zoology, biologi, teknik, matemtika, kimia, dan sebagainya) dan ilmu-ilmu yang berkaitan dengan dan membutuhkan eksperimen.

3. Al-Qur’an
“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan Adam dari sulbi mereke dan Allah mengambil kesaksian kepada jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “betul (Engkaulah Tuhan kami), kami menjadi saksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap kesaksian ini.” (Q.S Al-A’raf:172).

Pada saat Allah SWT menciptakan hamba-hambanya, Dia memberikan pertolongan dan bimbingan ke jalan yang lurus dan berpegang teguh ke jalan yang benar. Dan dalam jiwa hamba-hamba Nya tertanam fitrah yang berfungsi sebagai pembimbing yang menunjukkan ke jalan yang selalu benar.

Secara Etimologi ada terdapat perbedaan pendapat dari sebagian para ulama tenteng lafal Al-Qur’an, tetapi setelah dilakukan kajian mereka sepakat bahwa lafal Al-Qur’an adalah ism (isim/ kata benda), bukan fi’il (fi’il / kata kerja) atau harf (huruf). Isim yang dimaksud dalam[1] bahasa Arab sama dengan keberadaan isim-isim yang lain, kadang berupa isim jamid atau disebut isim musytaq.

Sebagian ulama juga ada yang berpendapat, bahwa Al-Qur’an tersebut adalah ismu jamid ghairu mahmuz, yaitu sebuah isim yang bersangkutan dengan nama yang khusus diberikan kepada Taurat dan Injil. Pendapat ini diwakili oleh Ibnu Katsir dari mazhab Syafi’i. Sebagian ulama lain berpendapat, bahwa lafal Al-Qur’an adalah ismu musytaq, namun mereka masih terbagi ke dalam dua golongan:

A. Golongan pertama diwakili, antara lain oleh Al-Asy’ari (Zarkasyi,1, 1400:278). Yang berpendapat kata Al-Qur’an diambil dari kalimat “Qaranat asy-syai’u bis-sya’i idza dhammamatuh ilaihi.” Ada juga berpendapat, diambil dari kalimat “Qarana baina al-ba’irain, idza jama’a bainahuma”. Dari kalimat terakhir ini muncul sebutan Qiran terhadap pengumpulan pelaksanaan ibadah haji dan umrah dengan hanya satu ihram.

B.Golongan kedua diwakili, antara lain oleh al-Farra (Suyuthi,1,1343:87). Berpendapat bahwa lafal Al-Qur’an musytaq dari kata qara’un, jamak dari kata qarinah, karena ayat-ayat al-Qur’an (lafalnya) banyak yang sama antara yang satu dengan yang lain.

4. Fakta Dan Sejarah Al-Qur’an
a. Nabi menerima wahyu dari Allah berupa Al-Qur’an, lalu beliau dapat perintah dari Allah untuk menyampaikan kepada umat manusia. Pada zaman ini belum ada kajian tentang ulum al-Qur’an, pengikut beliau hanya menghafal dan kalau ada masalah langsung menanyakan pada beliau.
b.Khulafa’ur Rasyidin, setelah kejadian 70 pengahfal al-Qur’an tewas dalam peperangan. Adanya kekhawatiran tentang hilangnya orang-orang pengahafal al-Qur’an, dan beberapa sahabat mengusulkan disusun menjadi sebuah mushaf. setelah mengalami kodifikasi dan juga adanya kekhawatiran pemahaman tentang al-Qur’an.
c. Pada zaman Tabi’in mulai adanya kajian-kajian tentang al-Qur’an dan beberapa ilmu yang termasuk dalam al-Qur’an, Tetapi belum begitu mengkajinya secara mendalam. Pada jaman tabi’in kecil baru mengkaji secara mendalam pembagian tentang ilmu-ilmu yang ada dalamnya.
d. Dalam perkembangannya ilmu ini disebut ulumul Qur’an. Serta kajian detail dan ulama-ulama sudah banyak membahas tentang ulumul Qur’an.

5. Munculnya Istilah Ulumul-Qur’an
Setelah dirintis dasar-dasar ‘ulum Al-Qur’an, maa para mufassir mulai melakukan kodifikasi/penulisan ‘ulum Al-Qur’an. Tetapi sebelum cita-cita ini dilakukan, terlebih dahulu mereka melakukan pembukuan tafsir Al-Qur’an. sebab tafsir Al-Qur’an yang alin. Orang-orang yang pertama melakukan ini adalah Yazid bin Harun Al-Salami (w. 117H), Syu’bah bin al-Hajjaj (w.160H), Waki’ bin al-Jarrah (w.197H) dan lain-lain.

Tafsir-tafsir yang mereka tulis berupa koleksi pendapat-pendapat sahabat dan tabi’in yang kebanyakan belum dicetak, sehingga tidak sampai pada generasi sekarang. Setelah itu muncul penafsir-penafsir yang masyhur seperti Ibn Majah (w.273H), Ibnu Jarir Al-Qur’an-Thabari (w.310), Abu Bakar bin Al-Qur’an-Mundzir An-Nisaburi (w.318 H), Ibn Abi hatim (w.327 H) dan Ibn Hibban (w.369 H), Al-Hakim (w.369 H) dan lain-lain.

Keterangan lebih lanjut mengenai sejarah panjang tentang ulumul quran ini bisa di lihat dari beberapa pustaka yang menjadi rujukan dari fakta dan sejarah tersebut, salah satunya melalui link yang ada pada salah satu sumber di bawah ini.

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga bermanfaat.

Sumber:
piss-ktb.com
almunawwar.or.id