Uzlah Hati Sebagai Proses Pembelajaran Menuju Kehambaan Diri Yang Hakiki

Uzlah Hati Sebagai Proses Pembelajaran Menuju Kehambaan Diri Yang Hakiki

Almunawwar.or.id – Tidak ada satu pun hal yang bisa memberikan manfaat jiwa dan hati dari dunia ini terkecuali bisa dengan mengolahnya sesuai dengan apa yang di anjurkan dan diperintahkan oleh agama, sehingga berawal dari sebuah renungan bisa menghasilkan ibadah tafakur untuk senantiasa membersihkan hati.

Apalagi jika keteguhan hati tersebut berawal dari sebuah proses pembelajaran diri sebagai sebuah renungan untuk bisa jauh lebih mengenal kehmabaan diri seseorang yang selalu di tuntut untuk tetap rendah diri dalam menemukan kebersihan hati yang sesungguhnya.

Dan makna ini rupanya lahir dari sebuah ibadah tafakkur (berfikir) yang berangkat dari proses uzlah (pengasingan diri) dari hal-hal yang bersifat duniawi yang justru akan menjadi noda dalam menemukan seorang hamba Alloh S.W.T yang sejati.

القلوب مزارع فازرع فيها الكلمة الطيبة ، فإن لم تتمتع بثمرها تتمتع بخضرها ( لقمان الحكيم )

Artinya : “Hati itu seperti ladang, maka tanamlah kalimat-kalimat (ucapan)yg baik, maka kalau kamu tidak bisa mendapatkan kesenangan dari buahnya maka kamu akan mendapatkan kesenangan dari hijau daunnya. (Lukman Hakim)

Yang memang dalam pelaksanaan uzlah tersebut harus dilakukan dengan sepenuh hati agar bisa menemukan jati diri dan pengakuan diri yang begitu hina, kecil, lemah bahkan tidak ada apa-apanya jiak tidak di barengi dengan rahmat dan kasih sayang dari Alloh S.W.T.

Bahkan Imam Ahmad bin Sahl menjelaskan kepada kita dengan berkata, ”Musuhmu ada empat, yaitu:
1. Dunia senjatanya adalah makhluk dan penjaranya adalah uzlah
2. Syetan senjatanya adalah kenyang dan penjaranya adalah lapar
3. Nafsu senjatanya adalah tidur dan penjaranya adalah terjaga
4. Hawa senjatanya adalah berbicara dan penjaranya adalah diam

Sehingga tidak ada yang lebih manfaat bagi kebehagiaan hati terkecuali bisa mengasingkannya dari hal-hal yang justru akan mengotori dan menodai kesuciannya, Untuk itulah dalam menemukan kesucian hati perlu adanya sebuah proses perjalanan salah satunya dengan memperbanyak tafakkur. Sebab,

تفكر ساعة خير من عبادة سنة

Artinya : “Tafakur sesaat lebih baik daripada ibadah satu tahun (HR. Bukhari).

Intinya berawal dari tafakkur terhadap apa yang menjadi ciptaannya itu merupakan awal dari proses penemuan jati diri yang sesungguhnya, sebagaiman sebuah keterangan menyebutkan “Barang siapa mengenal dirinya, niscaya akan mengnal Rabbnya”. Dan makna itu rupanya senada dengan firman Alloh S.W.T pada surat Ali Imran 190-191.

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَاخْتِلافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لآيَاتٍ لأولِي الألْبَابِ . الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

Artinya : “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal (cerdas). (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka”.

Untuk itu kiranya penting bertafakur dengan apa yang ada dalam diri dan di sekitar kita yang tentunya akan berbuah pada nilai ibadah, sehingga secara perlahan tapi pasti bisa menemukan makna jati diri yang sesungguhnya yang berawal dari proses pembelejaran uzlah itu sendiri.

Karena dengan berfikir, manusia dapat mengetahui substansi sesuatu, dan semakin menambah makrifat kepada Allah. Akal sehat dan pikiran yang jernih akan membiarkan manusia memilih mana yang maslahat dan mana yang mafsadah, mengetahui bujuk rayu syetan dan rendahnya kehidupan dunia ini.

Sedangkan uzlah akan memberi kesempatan bagi si hamba untuk menyibukkan diri dengan kesucian hati, lidah dan perilaku, serta menghindarkan diri dari kesibukan yang bertentangan dengan ajaran Islam. Uzlah yang mendorong berfikir jernih merupakan salah satu metode yang tepat untuk menuju makrifat kepada Allah.

Sebagaimana yang tersirat dalam kajian kitab alhikam dengan redaksinya sebagai berikut:

مَا نَفَعَ الْقَلْبَ شَيْءٌ مِثْلُ عُزْلَةٍ يَدْخُلُ بِهَا مَيْدَانُ فِكْرَةٍ.

Artinya : “Tiada sesuatu pun yang berguna bagi hati sebagaimana uzlah untuk memasuki medan perenungan”.

Tidak ada sesuatu yang lebih bermanfaat bagi hati selain mengasingkan diri dari dunia ramai, menuju sebuah kontemplasi, dengan tujuan menghidupkan jiwa dan mensucikan pikiran dari pengaruh-pengaruh yang merusak. Selain itu juga memikirkan semua ciptaan Allah di darat, laut dan udara untuk mengetahui keagungan Allah.

Dalam uzlah alam pikiran manusia akan menjadi tenang dan luas jangkauannya, wawasan berfikirnya pun bertambah, sedangkan jiwanya menjadi bersih dan tenteram. Dengan uzlah dan memikirkan ciptaan Allah akan memperkuat pikiran sehat, menerangi logika dengan sinar Allah, menjauhkan diri dari pikiran maksiat dan perbuatan dosa. Cara uzlah ini sekaligus memelihara iman dan keyakinan kita serta akan membersihkan kita dari dosa-dosa.

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga bermanfaat.

Sumber:
piss-ktb.com
almunawwar.or.id