Yang Dimaksud Ba’ah (Mampu Menikah) Menurut Hadits Dari Tinjauan Hukum Fiqh

Yang Dimaksud Ba'ah (Mampu Menikah) Menurut Hadits Dari Tinjauan Hukum Fiqh

Almunawwar.or.id – Adanya sebuah keharusan yang mendorong seorang laki-laki untuk menyegerakan keinginan dalam mencapai sebuah kebahagiaan bersama perempuan yang di cintainya itu adalah bagian penting dari kemampuan dirinya untuk lebih memberikan ketenangan dalam hidupnya.

Dimana kemampuan tersebut merupakan landasan dan ukuran penting bagi seorang laki-laki yang sudah ingin melaksanakan sebuah kesunahan yang berbuah pada sebuah keharusan, hal ini berdasarkan apa yang menjadi standarisasi dari pada kemampuan seorang laki-laki yang ingin melaksanakan pernikahan.

Bahkan seolah menjadi sebuah definisi serta ukuran dari pada mampu dalam nikah, sebab tidak sedikit orang yang masih bingung dan tidak mengetahui pasti apa yang di maksud dengan mampu dalam menikah tersebut, dengan secara pemaknaan itu adalah hal yang penting untuk di ketahaui lebih lanjut.

Berdasarkan keterangan yang termuat dari beberapa dalil sebagai rujukan untuk lebih memastikan kedudukan dan juga keabsahan melalui keterangan-keterangan yang langsung terkait dengan permasalahan tadi. Dan maksud mampu dalam nikah adalah mampu untuk membayar mahar yang kontan dan menafkahi istri pada hari pernikahan dan malam harinya.

Sesuai dengan keterangan-keterangan yang termuat dalam kitab-kitab fiqih, salah satu di antaranya adalah yang terdapat pada kitab Subulassalam halaman 109 juz 3 dengan redaksinya sebagai berikut :

سبل السلام ٣/١٠٩
: .يا معشر الشباب من استطاع منكم الباءة فليتزوج فإنه أغض للبصر وأحصن للفرج ومن لم يستطع فعليه بالصوم فإنه له وجاء. متفق عليه____
و اختلف العلماء في المراد بالباءة والأصح أن المراد بها الجماع فتقديره : من استطاع منكم الجماع لقدرته على مؤنة النكاح فليتزوج.

Begitu pula keterangan yang erdapat pada kitab Al baijuri halaman 92 juz 2 dengan keterangan yang menyangkut tentang maksud dari pada kemampuan seorang laki-laki dalam menikah.

الباجوري ٢/٩٢
و النكاح مستحب لمن يحتاج اليه بتوقانه للوطء و يجد أهبته كمهر و نفقة فإن فقد الأهبة لم يستحب له النكاح___ والمراد بالمهر الحال منه و بالنفقة نفقة يوم النكاح و ليلته وبالكسوة كسوة فصل التمكين____والباءة بالمد مؤن النكاح.

Imam Nawawi mengatakan bahwa para ulama berbeda pendapat mengenai maksud dari kata Ba’ah dalam hadits tersebut. Sebagian ulama mengatakan bahwa yang dimaksud Ba’ah di sini adalah maknanya secara bahasa, yaitu jima’. Jadi bunyi hadits tersebut menjadi, “Barangsiapa di antara kalian telah mampu berjima’, hendaklah ia menikah. Barangsiapa belum mampu berjima’, hendaklah ia berpuasa untuk menahan syahwat dan air maninya, sebagaimana tameng yang menahan serangan”. Jika yang dimaksud Ba’ah adalah jima’, maka objek dari hadits tersebut adalah para pemuda yang memiliki hasrat yang besar terhadap lawan jenisnya.

Pendapat kedua mengatakan bahwa yang dimaksud Ba’ah adalah kemampuan seseorang untuk memberikan nafkah dan keperluan pernikahan. Jadi, bunyi haditsnya menjadi, “Barangsiapa di antara kalian telah mampu memberikan nafkah dan keperluan pernikahan, hendaklah ia menikah. Barangsiapa belum mampu memberikan nafkah dan keperluan pernikahan, hendaklah ia berpuasa untuk menahan syahwatnya”. Lihat Kitab Al-Minhaj Syarah Shahih Muslim Juz 9 Halaman 173 :

الباة بلا مد والثالثة الباء بالمد بلا هاء والرابعة الباهة بهاءين بلا مد وأصلها في اللغة الجماع مشتقة من المباءة وهي المنزل ومنه مباءة الابل وهي مواطنها ثم قيل لعقد النكاح باءة لأن من تزوج امرأة بوأها منزلا واختلف العلماء في المراد بالباءة هنا على قولين يرجعان إلى معنى واحد أصحهما أن المراد معناها اللغوي وهو الجماع فتقديره من استطاع منكم الجماع لقدرته على مؤنه وهي مؤن النكاح فليتزوج ومن لم يستطع الجماع لعجزه عن مؤنه فعليه بالصوم ليدفع شهوته ويقطع شر منيه كما يقطعه الوجاء وعلى هذا القول وقع الخطاب مع الشبان الذين هم مظنه شهوة النساء ولا ينفكون عنها غالبا والقول الثاني أن المراد هنا بالباءة مؤن النكاح سميت باسم ما يلازمها وتقديره من استطاع منكم مؤن النكاح فليتزوج ومن لم يستطعها فليصم ليدفع شهوته والذي حمل القائلين بهذا على هذا أنهم قالوا قوله صلى الله عليه و سلم ومن لم يستطع فعليه بالصوم قالوا والعاجز عن الجماع لا يحتاج إلى الصوم لدفع الشهوة فوجب تأويل الباءة على المؤن وأجاب الأولون بما قدمناه في القول الأول وهو أن تقديره من لم يستطع الجماع لعجزه عن مؤنه وهو محتاج إلى الجماع فعليه بالصوم والله أعلم

Ba’ah secara bahasa berarti jima’ (bersenggama), kemudian dipakai untuk menyatakan akad nikah dari mahar dan nafkah. Keterangan masalah Ba’ah ssendiri bisa di lihat dan di tela’ah kembali dalam kitab Taudihul Ahkam Min Bulugil Maram Bab Nikah Halaman 214.

الباءة: فيه اربع لغات، المشهور منها هو المد وتاء التأنيث، والمعنى اللغوى للباءة: هو الجماع، ولكن المراد هنا مؤذن النكاح من المهر والنفقة. والمعنى: من استطاع منكم اسباب الجماع ومؤنه فليتزوج.

Yang di maksud dengan Ba’ah dalam hal ini terdapat empat bahasa, yang pertama dan paling mashur adalah di madkan dan memakai t’ ta’nis dan secara makna arti dari ba’ah adalah Jima, namun yang di maksud di sini adalah mampunya seseorang dalam nikah dari mahar dan juga nafkah dalam nikah, sehingga bisa di maknai Ba’ah di sini adalah “Barang siapa di antara kalian yang mampu untuk membiayai nikah dan tidak kuat terhadap menahan syahwat maka segeralha untuk menikah.

Maksud Mahar Musamma Dan Mahar Misli
Dalam permasalahan nikah tersebut ada juga istilah mahar musamma dan mahar misli, dimana keduanya merupakan bentuk dari pada wujudnya seseorang laki-laki yang ingin memberikan kebahagiaan bagi pasangannya, yang di berikan lewat pemberian mahar pada proses akad pernikahan.

Dalam hal ini, mahar tidak mesti harus dibayar kontan saat itu juga, dan bukan hanya terbatas pada bentuk barang saja. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Imam Abu Ishak Ibrahim bin Ali bin Yusuf al-Fairuzzabadi al-Syairazi dalam Al-Muhadzdzab fi Fiqh al-Imam al-Syafi’i (Damaskus: Dar al-Qalam, 1992), juz II, hal. 463:

فصل: ويجوز أن يكون الصداق ديناً وعيناً وحالاً ومؤجلاً لأنه عقد على المنفعة فجاز بما ذكرناه كالإجازة.
فصل: ويجوز أن يكون منفعة كالخدمة وتعليم القرآن وغيرهما من المنافع المباحة

Artinya: “Pasal: Maskawin boleh dalam bentuk piutang, barang, kontan, maupun ditempokan, karena nikah merupakan akad untuk mendapatkan manfaat, maka boleh dilakukan dengan hal-hal yang telah kami sebutkan, sebagaimana dalam akad sewa. Pasal: Maskawin boleh juga berupa jasa, seperti dalam bentuk pelayanan, pengajaran Al-Qur’an atau hal-hal lain yang berupa jasa yang diperbolehkan”.

Dalam persoalan mahar ini, ada dua permasalahan yang menarik untuk dibahas, yakni masalah mahar musamma dan mahar mitsli. Masih dari kitab yang sama, kita bisa melihat keterangan tentang permasalahan tersebut pada hal. 465:

فصل: وتملك المرأة المسمى بالعقد إن كان صحيحاً ومهر المثل إن كان فاسداً

Artinya: “Seorang perempuan berhak memiliki mahar musamma yang disebutkan dalam akad apabila akadnya sah, dan tetap berhak memiliki mahar mitsli apabila akadnya rusak.”

Pemahamannya adalah bahwa pada prinsipnya mahar merupakan sejumlah harta yang harus dibayarkan oleh suami yang disebabkan suami telah mendapatkan manfaat dari pernikahan yakni halalnya berhubungan intim. Oleh karena itu menurut para ulama, tetapnya kewajiban pembayaran mahar dimulai sejak hubungan itu terjadi.

Untuk memudahkan pemahaman, kita contohkan seorang suami yang memberikan mahar secara menghutang. Sebelum hubungan intim terjadi, meski sudah akad, mahar tersebut belum lagi tetap kewajibannya. Tetapnya kewajiban pembayaran mahar dimulai sejak ia sudah berhubungan dengan istrinya.

Pada saat tersebut, jika setelah diteliti bahwa pernikahannya itu sah adanya, maka yang wajib baginya ialah mahar musamma, yakni mahar sebagaimana yang disebutkan ketika akad. Namun apabila setelah diteliti ternyata pernikahannya tidak sah, semisal karena kedapatan ada penyakit yang menyebabkan batalnya nikah, maka yang wajib bukan lagi mahar musamma, namun mahar mitsli. Mahar mitsli ini ialah mahar yang disesuaikan dengan mahar-mahar yang dibayarkan pada sebayanya perempuan tersebut. Bisa dengan cara melihat kepada mahar yang diterima oleh saudara-saudara perempuannya atau bibi-bibinya.

Lantas bagaimana status mahar apabila pasangan tersebut bercerai sebelum terjadinya hubungan suami-istri?, Syekh Muhammad bin Qasim dalam Fathul Qarib (Surabaya: Kharisma, 2000), halaman 236, menjelaskannya sebagai berikut:

ويسقط بالطلاق قبلَ الدخول بها نصفُ المهر

Artinya: “Gugur sebab talak sebelum berhubungan, separuh mahar.”

Hal ini didasarkan pada ayat Al-Qur’an Surat al-Baqarah ayat 237:

وَإِنْ طَلَّقْتُمُوهُنَّ مِنْ قَبْلِ أَنْ تَمَسُّوهُنَّ وَقَدْ فَرَضْتُمْ لَهُنَّ فَرِيضَةً فَنِصْفُ مَا فَرَضْتُمْ…

Artinya: “Jika kamu menceraikan istri-istrimu sebelum kamu bercampur dengan mereka, padahal sesungguhnya kamu sudah menentukan maharnya, maka bayarlah seperdua dari mahar yang telah kamu tentukan itu”

Meskipun demikian, apabila pihak suami merelakan keseluruhan mahar, hal tersebut tetap diperbolehkan, dan bahkan lebih baik, sebagaimana kelanjutan ayatnya:

إِلَّا أَنْ يَعْفُونَ أَوْ يَعْفُوَ الَّذِي بِيَدِهِ عُقْدَةُ النِّكَاحِ وَأَنْ تَعْفُوا أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى

Artinya: “Kecuali jika istri-istrimu itu memaafkan atau dimaafkan oleh orang yang memegang ikatan nikah, dan pemaafan kamu itu lebih dekat kepada takwa.”

Demikian salah satu penjelasan mengenai ketentuan dari maksud mampu dalam nikah dan masalah seputar pemberian mahar atau mas kawin baik yang di sebut dengan mahar musamma maupun dari mahar misli.

Wallohu A’almu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
almunawwar.or.id
piss-ktb.com
nu.or.id