Adab Kiat Doa Khusus Bagi Pelajar Dalam Memahami Sebuah Pelajaran

Adab Kiat Doa Khusus Bagi Pelajar Dalam Memahami Sebuah Pelajaran

Almunawwar.or.id – Memahami sebuah pelajaran atau ilmu yang baru di dapat itu bukan hanya soal mudahnya meneriam alur dari pada ilmu tersebut, Akan tetapi jauh lebih bermakna apabila persiapan secara matang lahir dan bathin dalam menerima sebuah ilmu itu jauh lebih baik dan lebih bermanfaat untuk ke depannya, Sebagaimana yang di ajarkan dalam Islam ada tata cara khusus bagi mereka para pencari ilmu baik pelajar maupun santri.

Karena ilmu dalam Islam itu adalah cahaya yang menerangi hati dan jiwa, Jadi ilmu yang bersih sebagaimana ilmu-ilmu para rasul, para nabi, para aulia dan para Ulama shalafusholih yang di barengi dengan kebersihan jiwa untuk bisa menmberikan pelita dalam saat gelap gulita. Dengan ilmu semua itu akan mudah dan terarah, bahkan ibadah jika tidak di barengi ilmu maka ibadah tersebut tidak syah dan di tolak.

Baik dari urusan dunia maupun akhirat semua harus dengan ilmunya, Barang siapa yang bermaksud pada hal dunia maka harus di barengi dengan ilmu, barang siapa yang bermaksud akhirat maka harus dengan ilmu pula dan barang siapa yang bermaksud pada keduanya maka harus dengan ilmunya, Untuk itu berusaha untuk mendapatkan ilmu juga berdoa dalam menjalakan usaha tersebut adalah hal yang mutlak harus di kerjakan bagi pencari ilmu.

Syaikh Az-Zarnuji menulis dalam kitabnya, Ta’lim Muta’allim:

وَيَنْبَغِى أَنْ يَنْوِيَ اْلُمُتَعَلِّمُ بِطَلَبِ الْعِلْمِ رِضَا اللِهِ تَعَالَى وَالدَّارَ الْلآخِرَةَ وَإِزَالَةَ الْجَهْلِ عَنْ نَفْسِهِ وَعَنْ سَائِرِ الْجُهَّالِ وَإِحْيَاءَ الدِّيْنَ وَإِبْقَاءِ الْإِسْلَامِ

Artinya : “Niat seorang pelajar dalam menuntut ilmu harus ikhlas mengharap ridha Allah, mencari kebahagiaan di akhirat, menghilangkan kebodohan dirinya, menghidupkan agama, dan melestarikan Islam” (Syekh Azzarnuji dalam Ta’lim Muta’allim)

Dari keterangan tersebut sangatlah penting bagi para penuntut ilmu untuk bisa belajar senantiasa ikhlas dalam setiap amal, Karena dengan keikhlasan semua terasa ringan dan mudah, Terlebih jika mengharapkan keridhoan dari Aloh S.W.T sebagai tujuan utama dan paripurna dalam segala hal termasuk saat menuntut ilmu, Maka sangat di perlukan sekali beberapa hal yang harus di niatkan dalam hati bagi seorang menuntut ilmu.

Bahkan dalam pengajian di beberapa lembaga atau majlis pengajian empat perkara yang senantiasa ada saat akan belajar atau mengaji selalu di bacakan bersama-sama tidak jauh berbeda dengan maksud dan tujuan yang sudah di bahas tadi agar tujaun bisa berhasil sesuai dengan yang di harapkan. salah satu doa yang di ijazahkan oleh K.H. Abdullah Faqih, Pengasuh Pondok Pesantren Langitan. Do’a ini berbunyi:

اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا فَهْمَ النَّبِيِّيْنَ وَحِفْظَ اْلمَرْسَلِيْنَ وَإِلْهَامَ الْمَلَائِكَةِ الْمُقَرَّبِيْنَ، بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

Artinya : “Ya Allah, anugerahilah kami pemahaman para nabi, hafalan para rasul, dan ilhamnya para malaikat yang dekat (dengan-Mu), sebab kasih sayang-Mu, wahai Dzat yang Maha Pengasih.”

Dan perlu diketahui bagi pelajar atau santri yang sedang menuntut ilmu tidak hanya berusaha dengan berdoa secara pribadi namun mereka para guru, Ulama juga senantiasa di doakan dengan cara bertawassul dengan berharap tabaruk yang mengalir dari ilmu-ilmunya itu bisa mudah di terima dan betah dalam diri, sehingga bisa bermanfaat tidak hanya bagi diri tapi bagi orang lain.

Tawasul dengan orang shalih yang hidup, disebutkan dalam kitab Shahih Bukhari sebagai berikut:

حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ مُحَمَّدٍ قَالَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْأَنْصَارِيُّ قَالَ حَدَّثَنِي أَبِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُثَنَّى عَنْ ثُمَامَةَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَنَسٍ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ كَانَ إِذَا قَحَطُوا اسْتَسْقَى بِالْعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فَقَالَ اللَّهُمَّ إِنَّا كُنَّا نَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِنَبِيِّنَا فَتَسْقِينَا وَإِنَّا نَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِعَمِّ نَبِيِّنَا فَاسْقِنَا قَالَ فَيُسْقَوْنَ

Artinya : “Diriwayatkan dari Anas bin Malik sesungguhnya Umar bin Khatthab radliyallahu ‘anh ketika masyarakat tertimpa paceklik, dia meminta hujan kepada Allah dengan wasilah Abbas bin Abdul Mutthalib, dia berdoa ‘Ya Allah! Dulu kami bertawasul kepada-Mu dengan perantara Nabi kami, lalu kami diberi hujan. Kini kami bertawasul kepadamu dengan perantara paman Nabi kami, berikanlah kami hujan”. Perawi Hadits mengatakan “Mereka pun diberi hujan.” (Imam Bukhori, Shahih Bukhari, 1987, Beirut, Dar Ibn Katsir, halaman 99)

Sebagai pelengkap, thalibul ilmi juga dianjurkan untuk berwudu sebelum mengambil buku pelajaran. Sehingga ketika belajar, ia berada dalam keadaan suci. Berwudu dan berdo’a ini merupakan bentuk ta’dzim terhadap ilmu. Redaksi ini terdapat dalam Kitab Ta’lim Muta’allim juga.

وَيَنْبَغِي لِطَالِبِ الْعِلْمِ أَنْ لَايَأْخُذَ الْكِتَابَ إِلَّا بِطَهَاَرَةٍ

“Thalibul ‘ilmi hendaknya tidak mengambil kitab kecuali ia berada dalam keadaan suci”. Berdasarkan keterangan di atas, dapat disimpulkan bahwa belajar tak terbatas melalui usaha dzahir (yang nampak) saja, melainkan harus dibarengi dengan usaha batin, yaitu berdo’a. Berdo’a menjadi stimulan agar dimudahkan dan difokuskan dalam memahami pelajaran.

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
nu.or.id
almunawwar.or.id