Bulan Rajab Momentum Yang Tepat Membenahi Shalat

Bulan-Rajab-Momentum-Yang-Tepat-Membenahi-Shalat

Almunawwar.or.id – Sebagai salah satu hamba yang sadar akan kelalaian dalam beribadah dalam hal ini adalah belum mampu menunjukan nilai ibadah tersebut sebagai salah satu bagian perintah yang semata-mata mengharap keridhoan alloh S.W.T tentunya harus banyak berbenah memperbaiki apa yang menjadi sebuah kekurangan dalam beribadah lebih khususnya dalam masalah shalat lima waktu.

Kesadaran akan hal tersebut bagi banyak orang awam tentunya menjadi sebuah hal yang senantiasa selalu di tingkatkan, terlebih jika berbicara masalah khusu’ dalam shalat itu memang sulit, Karena memang shalat menjadi pokok dalam beribadah juga sebagai tiangnya agama, jika lalai dalam merawat, memelihara tiang tersebut maka tunggulah hasilnya.

Dalam keterangan sebuah hadits di sebutkan dalam riwayat (HR al-Baihaqi) “Shalat itu adalah tiang agama (Islam), maka barangsiapa mendirikannya, sungguh ia telah menegakkan agama (Islam) itu; dan barang siapa merobohkannya, sungguh ia telah merobohkan agama (Islam) itu”.

Berbenah di sini adalah orang yang masih lalai dalam mengerjakan shalat, baik dari ketetapatan waktu, memenuhi syarat, wajib, rukun shalat serta menjauhi hal-hal yang membatalkan shalat termasuk untuk bisa khusuk dalam setiap mengerjakan shalat tersebut, meskipun hal tersebut memang tidak mudah untuk di laksanakan, akan tetapi jka di barengi dengan kesungguhan maka tidak mungkin khusu’ akan datang dengan sendirinya.

Dan datangnya bulan Rajab adalah moment yang tepat untuk bisa memperbaiki dan membenahi shalat kita agar senantiasa khusuk dan khidmah dalam setiap pengamalannya. terlebih di bulan Rajab ini juga terjadi sebuah peristiwa yang sangat luar biasa yaitu Isro dan Mi’aj nya Rasulallaoh S.A.W dengan sholat lima waktu sebagai bagian dari peristiwa penting tersebut.

Bahkan di bulan ini orang-orang dilarang melakukan peperangan dan mengangkat senjata. Jadi siapa pun merasa aman. Bahkan para pakar fiqih memperberat sanksi diyat bagi siapapun yang membunuh seseorang pada bulan-bulan ini dengan hukuman yang lebih berat. Al-Imam Fakhruddin Ar-Razi dalam tafsirnya menjelaskan tentang empat bulan yang dimuliakan tersebut dengan kalimat berikut:

وَمَعْنَى الْحُرُمِ: أَنَّ الْمَعْصِيَةَ فِيهَا أَشَدُّ عِقَابًا، وَالطَّاعَةَ فِيهَا أَكْثَرُ ثَوَابًا

Artinya: “Yang dimaksudkan dengan bulan-bulan yang dimuliakan di sini, sesungguhnya maksiat dalam bulan ini siksanya lebih berat. Jika menjalankan ketaatan, pahalanya dilipatgandakan.” (Tafsir Ar-Râzi).

Pada bulan Rajab ini perlu menjadi pengingat-ingat untuk pribadi kita, supaya kita membersihkan diri kita dari kotoran-kotoran maksiat. Mari kita hentikan caci maki, menyebar kabar bohong, hoaks, fitnah menggunjing sesama warga negara dan bentuk perilaku-perilaku yang tidak pantas dilakukan oleh seorang muslim. Ingatlah, dosanya dilipatgandakan. Kita perlu waspada, perilaku dosa di bulan ini tidak main-main.

Mari kita mulai konsentrasi memikirkan akhirat kita yang abadi, menyambut bulan Ramadhan yang suci tinggal sebentar lagi. Al-Imam Dzun Nûn Al-Mishriy mengatakan:

رَجَبٌ شَهْرُ الزَّرْعِ، وَشَعْبَانُ شَهْرُ السَّقْيِ، وَرَمَضَانُ شَهْرُ الْحَصَادِ

Artinya: “Rajab adalah bulan menanam, Sya’ban adalah bulan menyiram, sedangkan Ramadhan adalah bulan menuai.”

وَكُلٌّ يَحْصُدُ مَا زَرَعَ، فَمَنْ ضَيَّعَ الزِّرَاعَةَ نَدِمَ يَوْمَ الْحَصَادِ

Setiap orang akan mengunduh atas apa yang ia tanam. Barangsiapa yang tidak merawat tanamannya, ia akan menyesal saat musim panen.

Pada bulan Rajab sebagai bulan menanam ini, jangan sampai kita bercocok tanam keburukan. Minimal, jika kita tidak bisa menanam dengan membantu atau membuat orang lain tersenyum, setidaknya jangan sampai kita merugikan orang lain. Jangan sakiti siapapun. Mari kita mulai dari bulan Rajab yang mulia ini.

Menurut mayoritas ulama, termasuk di antaranya adalah Imam Nawawi dalam kitabnya Ar-Raudhah menyatakan pada malam tanggal 27 Rajab, dahulu Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam diisra’kan atau dititahkan oleh Allah melaksanakan perjalanan malam dari Baitul Haram, Makkah menuju Baitul Maqdis, Palestina.

Setelah itu, Baginda Rasul dinaikkan dari Baitul Maqdis, Palestina menuju Sidratil Muntaha dengan ditemani malaikat Jibril. Singkat cerita, di situlah Nabi Muhammad mendapatkan mandat shalat lima waktu yang diwajibkan kepada semua umat Muhammad shallallahu alaihi wa sallam.

Dengan momentun isra’ mi’raj ini, marilah kita mengingat kembali betapa kita dimuliakan oleh Allah, kita sewaktu-waktu minimal dipanggil menghadap kepada Allah dalam sehari semalam, kita diperbolehkan bahkan diwajibkan menghadap penguasa alam semesta sebanyak minimal lima kali.

marilah kita tata shalat kita. Yang belum jamaah rutin di masjid, jika ada panggilan azan, panggilan menghadap kepada-Nya, mari kita gumregah, cepat-cepat mendatangi panggilan-Nya. Orang yang ingin doanya terkabul, hendaknya jika Allah memanggil segera mengabulkan undangan Allah yang berupa shalat. Dengan shalat di awal waktunya insyaAllah doa-doa akan mudah diijabah oleh Allah.

Shalat merupakan ibadah yang paling utama. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah ditanya:

اَيُّ الْعَمَلِ اَفْضَلُ؟

Kegiatan apa yang paling utama, Ya Rasul?

Kemudian Rasul menjawab

اَلصَّلاَةُ لِاَوَّلِ وَقْتِهَا

Shalat di awal waktunya.

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
nu.or.id
almunawwar.or.id