Cara Mensyukuri Nikmat Kemerdekaan Yang Telah Alloh S.W.T Berikan

Almunawwar.or.id – Nikmat yang telah Alloh S.W.T berikan kepada kita semua harus dan patut untuk di syukuri dalam setiap sisi kehidupan ini. Termasuk nikmat kemerdekaan yang berkat rahmat dan bimbingannya Alhamdulillah negara Indonesia bisa merdeka dan terbebas dari segala bentuk penjajahan. dengan di cetuskan dan di proklamirkannya Hari Kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945.

Semua elemen bangsa sangat mensyukuri dan bahagia yang tiada terhingga atas kemerdekaan ini, Karena dengan merdeka itu bisa menjadikan sesuatu jauh lebih berkembang, Adil dalam semua bentuk tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara, Berdaulat dan kuat dalam membangun dan menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta. Dan hal ini di apresiasikan lewat bentuk penghormatan upacara bendera merah putih.

Juga di meriahkan oleh beragam jenis kegiatan dan perlombaan yang sangat menghibur semua warga sekaligus menjadi sebuiah tradisi dimana bulan Agustus Tiba, maka semua warga selalu memperingati dan memeriahkannya dengan berbagai cara. Hal inilah yang menjadi satu dari sebagian cara mensyukuri nikmat kemerdekaan yang telah Alloh S.W.T berikan kepada bumi pertiwi ini.

Namun tentunya tidak hanya berbentuk keanekaragaman dari kegiatan Agustusan, Ada dua hal cara mensyukuri nikmat kemerdekaan ini yang nyata dan dapat di realisasikan dalam berkehidupan bermasyarakat di tanah air ini. Berikut dua cara tersebut.

  1. Mengisi kemerdekaan selama ini dengan meningkatkan ketakwaan kepada Allah. Menjalankan syariat secara tenang adalah anugerah yang besar di tengah sebagian saudara-saudara kita di belahan dunia lain berjuang mencari kedamaian. Umat Islam Indonesia harus mensyukurinya dengan senantiasa mendekatkan diri kepada sang khaliq dan berbuat baik kepada sesama. Perlombaan yang paling bagus dim omen ini adalah perlombaan menuju paling menjadi pribadi paling takwa karena di situlah kemuliaan dapat diraih.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Artinya; “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS al-Hujurat: 13)

  1. 2. Mencintai negeri ini dengan memperhatikan berbagai kemaslahatan dan kemudaratan bagi eksistensinya. Segala upaya yang memberikan manfaat bagi rakyat luas kita dukung, sementara yang merugikan masyarakat banyak kita tolak.

Dukungan terhadap kemaslahatan publik bisa dimulai dari diri sendiri yang berpatisipasi terhadap proses kemajuan di masyarakat, andil bergotong royong, atau patuh terhadap peraturan yang berlaku. Sebaliknya, mencegah mudarat berarti menjauhkan bangsa ini dari berbagai marabahaya, seperti bencana, korupsi, kriminalitas, dan lain sebagainya.

Al-Imam Hujjatul Islam Abu Hamid al-Ghazali dalam Ihyâ’ ‘Ulûmid Dîn mengatakan:

المُلْكُ وَالدِّيْنُ تَوْأَمَانِ فَالدِّيْنُ أَصْلٌ وَالسُّلْطَانُ حَارِسٌ وَمَا لَا أَصْلَ لَهُ فَمَهْدُوْمٌ وَمَا لَا حَارِسَ لَهُ فَضَائِعٌ

“Kekuasaan (negara) dan agama merupakan dua saudara kembar. Agama adalah landasan, sedangkan kekuasaan adalah pemelihara. Sesuatu tanpa landasan akan roboh. Sedangkan sesuatu tanpa pemelihara akan lenyap.”

Al-Ghazali dalam penryataan itu seolah ingin menegaskan bahwa ada hubungan simbiosis yang tak terpisahkan antara agama dan negara. Alih-alih bertentangan, keduanya justru hadir dalam keadaan saling menopang. Negara membutuhkan nilai-nilai dasar yang terkandung dalam agama, sementara agama memperlukan “rumah” yang mampu merawat keberlangsungannya secara aman dan damai.

Wallohu A’lamu Bishowaab

Semoga Bermanfaat.

Sumber: nu.or.id