Hakikat Kemerdekaan Menurut Kacamata Gus Dur

Almunawwar.or.id – Kemerdekaan yang di perjuangkan oleh segenap lapisan masyarakat indonesia merupakan salah satu anugerah dan karunia istimewa yang Allah S.W.T telah berikan kepada bangsa indonesia ini. Sebagaimana yang tercantum dalam pembukaan UUD 45 bahwa Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.

Dan kemerdekaan ini yang telah di perjuangkan oleh para Pahlawan Nasional yang rela mengorbankan segalanya sampai titik darah penghabisan untuk mendapat sebuah kemerdekaan dari segala bentuk penjajahan, Sehingga mendapat sebuah negara yang berdaulat, adil makmur dan sentosa. dan berperan dalam ketertiban dan keamanan dunia sehingga Negara Kesatuan Republik Indonesia menjadi sebuah negara yang sangat berperan aktif dalam menciptakan perdamaian dunia.

Berkeinginan luhur dalam menjamin semua warganya untuk hidup aman, tentram sejahtera dalam semua bidang juga mencerdaskan kehidupan berbangsa dan bernegara sebagai nikmat yang tiada terhingga dari Alloh S.W.T kepada segenap lapisan masyarakat Indonesia. Dan sebagai bentuk dari rasa syukur atas kemerdekaan ini sudah seyogyanya kita semua sebagai warga negara indonesia untuk bisa menjaga, memelihara kedaulatan republik tercinta ini.

Dengan mengisi kemerdekaan ini lewat beberapa persembahan terbaik dari semua kalangan masyarakat terutama saat menjelang hari tanggal 17 Agustus tiba sudah menjadi sebuah tradisi dalam mengisi kemerdekaan ini dengan beragam acara moment hiburan yang sangat merakyat, Namun yang jelas adalah sebuah hakikat dari perjalanan seseorang berbangsa, bernegara dan beragama. Sebagaimana yang dikemukakan oleh KH. Abdurahman Wahid atau Gus Dur dengan 7 hakikat kemerdekaan menurut beliau, dan berikut pernyataannya:

  1. Kemerdekaan lebih merupakan proses perjuangan menentukan nasib sendiri daripada keadaan yang bebas dari segala soal, kesulitan, dan hambatan. Pada tanggal 18 Agustus 1945, bangsa dan negara Indonesia menjamin dalam Undang-Undang Dasar (UUD)-nya bahwa sistem yang menghambatnya (penjajahan) tidak sesuai dengan peri-kemanusiaan dan peri-keadilan.
  1. Kemerdekaan adalah hak, hak yang mendasar bagi setiap manusia. Karena itu, harus dijamin dalam hidup kemasyarakatan, terutama dalam hidup berbangsa dan bernegara. Sejak 17 Agustus 1945 sampai dengan 17 Agustus 1959, perangkat hidup kebangsaan dan kenegaraan Indonesia disusun dan digunakan sedemikian rupa sehingga kemerdekaan justru terancam oleh tindakan sewenang-wenang (license).
  2. Musuh kemerdekaan bukanlah terutama kekuasaan masyarakat dan negara, melainkan kesewenang-wenangan (license) dalam penggunaan kekuasaan itu. Tergantung dari susunan dan penggunaannya, kuasa kemasyarakatan dan kenegaraan bisa mempersempit dan memperbesar peluang bagi kemerdekaan. Dari 17 Agustus 1959 sampai Maret 1966, susunan kuasa kemasyarakatan dan kenegaraan begitu terpusat di satu tangan seorang pemimpin, sehingga kemerdekaan tidak saja tertekan, tetapi juga telah mengakibatkan malapetaka kemiskinan dan kekerasan.
  3. Kemerdekaan mensyaratkan susunan dan penggunaan kuasa kemasyarakatan dan kenegeraan tertentu. Semakin terpusat kuasan itu di satu tangan, semakin tak berfungsi kemerdekaan sebagai kaidah hidup kemasyarakatan. Sejak Maret 1966, susunan kuasa kemasyarakatan dan kenegaraan kita sudah disebar meskipun harus diakui bahwa penyebaran itu masih sangat terbatas.
  4. Kemerdekaan sulit bertahan bahkan dalam susunan kuasa kemasyarakatan dan kenegaraan yang terpusat di beberapa tangan. Beberapa tahun belakangan ini, kurang berfungsinya kemerdekaan makin disadari sebagai biang keladi berbagai kesulitan, seperti lambatnya laju produktivitas, mutu produk yang kurang memadai, meski daya cipta masyarakat dan daya kerja aparat kekuasaan yang rendah.
  5. Kemerdekaan semakin berfungsi dalam susunan kuasa kemasyarakatan dan kenegaraan yang tersebar dengan maksimal. Karena itu, risiko ancaman kesewenang-wenangan memang sangat tinggi, tapi ini mungkin bisa dicegah oleh jaminan persamaan hak bagi semua. Bila pengalaman masyarakat dan negara lain di dunia begitu diperhatikan, maka nyatalah bahwa kemerdekaan (liberty) selalu bergandeng dengan rasa persaudaraan senasib sepenanggungan (fraternity), dan persamaan hak (equality). Semua ini bukan barang jadi, tapi harus diramu, dipelihara, dan dikembangkan secara tekun terus menerus
  6. Kemerdekaan paling mungkin berfungsi dalam suatu pengelolaan hidup masyarakat dan negara yang secara seimbang menghubungkannya dengan perasaan senasib sepenanggungan dan persamaan hak. Upaya yang tak habis-habis dalam memelihara keseimbangan ini bisa disebut demokrasi, di mana kemerdekaan hidup dan tanggung jawab yakni keseimbangan dengan persamaan hak bagi semua, serta dengan perasaan senasib sepenanggungan. Mencapai keseimbangan ini adalah tugas masyarakat dan bangsa Indonesia sejak sekarang.

Tentu dari ketujuh cara pandang dari beliau dari memaknai arti hakikat kemerdekaan jika di lihat dari prespektif historis perkembangan jaman sehingga bersifat reflektif, Sehingga mampu dengan adanya kemerdekaan ini bisa tercipta sebuah kemakmuran, keadilan, kesejahteraan, keadilan sosial oleh semua warga masyarakat Indonesia.

Wallohu A’lamu Bishowaab

Semoga Bermanfaat.

Sumber:

nu.or.id

almunawwar.or.id