Jumlah Hari Berpuasa di Bulan Rajab Berdasarkan Al Hadits

Jumlah Hari Berpuasa di Bulan Rajab Berdasarkan Al Hadits

Almunawwar.or.id – Bulan Rajab yang sejatinya merupakan bulan yang penuh dengan kemuliaan dan keberkahan, karena pada bulan tersebut terjadi sebuah peristiwa yang tidak hanya menggemparkan kaum muslim namun di luar itupun merasa sesuatu yang mustahil dilakukan oleh manusia biasa, Namun berhubung ini adalah Habibulloh maka hal tersebut pun bisa terjadi sesuai dengan kehendakNYa, dan peristiwa itu di namakan Isra Mi’raj.

Di bulan yang memiliki julukan sebagai Al Ashom ini juga di anjurkan bagi setiap umat muslim untuk berpuasa baik di awal, tengah maupun akhir pada bulan Rajab tersebut, hal ini tentunya berdasarkan keterangan dari Al hadits yang di perjelas oleh qaol para Ulama sebagai pewaris para Nabi sekaligus menjadi estapet penerus nilai dakwah Baginda Rasullalloh S.A.W untuk menebarkan syiar agama di muka bumi ini.

Namun di balik pelaksanaan anjuran berpuasa di bulan Rajab tersebut tidak sedikit orang muslim yang tidak mengetahui berapa jumlah hari yang baik dan di anjurkan untuk berpuasa di bulan Rajab itu? Sehingga sangat perlu sekali untuk menjawab permasalahan tersebut meskipun secara hukum itu adalah sunat, namun tidak ada salahnya untuk lebih memperjelas sehingga orang-orang awam menjadi lebih faham dan mengerti.

Sebelum ke titik permasalahan tadi mari kita mengulas kembali terlebih dagulu tentang keutamaan puasa sunnah di bulan Rajab berdasarkan Al Hadits yang di riwayatkan oleh Abu Dawud R.A,

عَنْ مُجِيبَةَ الْبَاهِلِيَّةِ عَنْ أَبِيهَا أَوْ عَمِّهَا أَنَّهُ أَتَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ انْطَلَقَ فَأَتَاهُ بَعْدَ سَنَةٍ وَقَدْ تَغَيَّرَتْ حَالُهُ وَهَيْئَتُهُ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَمَا تَعْرِفُنِي قَالَ وَمَنْ أَنْتَ قَالَ أَنَا الْبَاهِلِيُّ الَّذِي جِئْتُكَ عَامَ الْأَوَّلِ قَالَ فَمَا غَيَّرَكَ وَقَدْ كُنْتَ حَسَنَ الْهَيْئَةِ قَالَ مَا أَكَلْتُ طَعَامًا إِلَّا بِلَيْلٍ مُنْذُ فَارَقْتُكَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِمَ عَذَّبْتَ نَفْسَكَ ثُمَّ قَالَ صُمْ شَهْرَ الصَّبْرِ وَيَوْمًا مِنْ كُلِّ شَهْرٍ قَالَ زِدْنِي فَإِنَّ بِي قُوَّةً قَالَ صُمْ يَوْمَيْنِ قَالَ زِدْنِي قَالَ صُمْ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ قَالَ زِدْنِي قَالَ صُمْ مِنْ الْحُرُمِ وَاتْرُكْ صُمْ مِنْ الْحُرُمِ وَاتْرُكْ صُمْ مِنْ الْحُرُمِ وَاتْرُكْ وَقَالَ بِأَصَابِعِهِ الثَّلَاثَةِ فَضَمَّهَا ثُمَّ أَرْسَلَهَا

Artinya : “Dari Mujibah Al-Bahiliyyah, dari bapaknya atau pamannya, bahwa ia mendatangi Nabi. Kemudian ia kembali lagi menemui Nabi satu tahun berikutnya sedangkan kondisi tubuhnya sudah berubah (lemah/ kurus). Ia berkata, ‘Ya Rasul, apakah engkau mengenaliku?’ Rasul menjawab, ‘Siapakah engkau?’ Ia menjawab, ‘Aku Al-Bahili yang datang kepadamu pada satu tahun yang silam.’ Nabi menjawab, ‘Apa yang membuat fisikmu berubah padahal dulu fisikmu bagus (segar).’ Ia menjawab, ‘Aku tidak makan kecuali di malam hari sejak berpisah denganmu.’ Nabi berkata, ‘Mengapa engkau menyiksa dirimu sendiri? Berpuasalah di bulan sabar (Ramadhan) dan satu hari di setiap bulannya.’ Al-Bahili berkata, ‘Mohon ditambahkan lagi ya Rasul, sesungguhnya aku masih kuat (berpuasa). Nabi menjawab, ‘Berpuasalah dua hari.’ Ia berkata, ‘Mohon ditambahkan lagi ya Rasul.’ Nabi menjawab, ‘Berpuasalah tiga hari.’ Ia berkata, ‘Mohon ditambahkan lagi ya Rasul.’ Nabi menjawab, ‘Berpuasalah dari bulan-bulan mulia dan tinggalkanlah, berpuasalah dari bulan-bulan mulia dan tinggalkanlah, berpuasalah dari bulan-bulan mulia dan tinggalkanlah.’ Nabi mengatakan demikian seraya berisyarat dengan ketiga jarinya, beliau mengumpulkan kemudian melepaskannya’.” (HR Abu Dawud).

Keterangan dari hadits tersebut tentunya bisa menjawab sebuah landasan tentang berapa hari di anjurkan untuk berpuasa di bulan Rajab, hal tersebut pernah di alami oleh salah satu shahabat Nabi bernama Mujibah Al-Bahiliyyah, Dimana beliau sangat antusias untuk bisa melaksanakan amal ibadah seperti berpuasa sunah di bulan Rajab.

Meskipun secara fisik Dia terlihat kurus karena memang sangat getol dalam berpuasa, padahal setahun sebelum dia mendatangi baginda Nabi itu badannya tidak terlihat kurus, Sehingga timbul pertanyaan dari baginda Nabi kepada shahabat Al bakhili sebagaimana ynga sudah tersirat dari keterangan hadits di atas.

Meninjau masalah ini yaitu pada bagian akhir hadits salah seorang Ulama ternama Syekh Abut Thayyib Syamsul Haq Al-Azhim mengatakan:

أَيْ صُمْ مِنْهَا مَا شِئْتَ وَأَشَارَ بِالْأَصَابِعِ الثَّلَاثَةِ إِلَى أَنَّهُ لَا يَزِيْدُ عَلَى الثَّلَاثِ الْمُتَوَالِيَاتِ وَبَعْدَ الثَّلَاثِ يَتْرُكُ يَوْمًا أَوْ يَوْمَيْنِ وَالْأَقْرَبُ أَنَّ الْإِشَارَةَ لِإِفَادَةِ أَنَّهُ يَصُوْمُ ثَلَاثًا وَيَتْرُكُ ثَلَاثًا وَاللهُ أَعْلَمُ قَالَهُ السِّنْدِيُّ

Artinya: “Maksudnya, berpuasalah dari bulan-bulan mulia, apa yang engkau kehendaki. Nabi berisyarat dengan ketiga jarinya untuk menunjukkan bahwa Al-Bahili hendaknya berpuasa tidak melebihi tiga hari berturut-turut, dan setelah tiga hari, hendaknya meninggalkan puasa selama satu atau dua hari. Pemahaman yang lebih dekat adalah, isyarat tersebut untuk memberikan penjelasan bahwa hendaknya Al-Bahili berpuasa selama tiga hari dan berbuka selama tiga hari. Hal ini sebagaimana dikatakan oleh Syekh As-Sindi. Wallahu a’lam,” (Lihat Syekh Abut Thayyib Syamsul Haq Al-Azhim, ‘Aunul Ma’bud Syarh Sunan Abi Dawud, juz VII, halaman 58).

Intisarinya adalah Nabi memberikan arahan dan petunjuk untuk berpuasa kepada umatnya sesuai dengan kapasitas dan kemampuan dalam melaksanakannya, ada jeda terlebih dahulu satu hari, dua hari atau tiga hari pada pengamalan puasa rajab nanti setelah itu lanjutkan berpuasa kembali. Hal ini menyesuaikan jika fisik yang berpuasa itu lemah, namun kalau memang berpuasa penuh satu bulan di bulan rajab itu tidak apa-apa bahkan lebih afdhol. Syekh Ibnu Hajar Al-Haitami menegaskan:

قال الْعُلَمَاءُ وَإِنَّمَا أَمَرَهُ بِالتَّرْكِ لِأَنَّهُ كان يَشُقُّ عليه إكْثَارُ الصَّوْمِ كما ذَكَره في أَوَّلِ الحديث فَأَمَّا من لَا يَشُقّ عليه فَصَوْمُ جَمِيعِهَا فَضِيلَةٌ “

Ulama berkata, Nabi memerintahkan Al-Bahili untuk meninggalkan puasa, sebab memperbanyak puasa baginya berat sebagaimana yang disebutkan dalam awal hadits. Sedangkan bagi orang yang tidak berat berpuasa, maka berpuasa di sepanjang bulan-bulan mulia merupakan keutamaan,” (Lihat Syekh Ibnu Hajar Al-Haitami, Al-Fatawa Al-Fiqhiyyah Al-Kubra, [Beirut: Darul Fikr, 1983 M], juz II, halaman 53).

Dari keterangan yang di jelaskan tadi bersumber dari Al hadits dan di perjelas oleh qaol ulama bahwa jumlah hari berpuasa di bulan rajab itu tidak terbatas, mau satu, dua, tiga hari itu tidak apa-apa, namun jika memang mampu untuk melaksanakan selama satu bulan rajab penuh itu jauh lebih baik bagi orang yang melaksanakannya.

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
nu.or.id
almunawwar.or.id