Khutbah Jumat “Intisari Sabar Dengan Takdir di Akhir Bulan Safar”

Almunawwar.or.id – Kesabaran dalam menerima semua hal yang telah ada dan yang sedang serta akan di alami adalah sebuah landasan bagi seorang muslim untuk lebih memperkuat keimanannya. Karena semua yaqin yang terjadi di dunia ini tidak lepas dari qodho dan takdir Alloh. S.W.T. Baik yang buruk maupun hal yang baik. Terutama jika dikaitkan dengan berbagai peristiwa yang di asumsikan tidak sedikit oleh banyak orang dengan bulan Safar ini.

Sejatinya tidak ada semua bentuk asumsi tersebut hanyalah sebuah anggapan dari secara kebetulan saja hal yang buruk datang dan terjadi pada sebuah waktu seperti bulan Safar ini. Sehingga tidak perlu untuk khawatir dengan apa yang di alami, Karena jika di barengi dengan rasa sabar dan syukur semua akan terasa mudah dan nikmat luar biasa.

Hal inilah yang senantiasa di jadikan pondasi kuat dalam memupuk nilai keimanan seorang Muslim, Karena dengan sabar itu mampu memperkuat dan meningkatkan kualitas mental dan jati diri kita. dengan Syukur itu akan jauh lebih bernilai lagi sesuatu tersebut meskipun dalam skala kecil. Seperti berikut ini “Intisari dari khutbah Jum’at di akhir Bulan Safar dengan sabar pada takdir” Sehingga mampu mendatangkan nilai juang dan rasa optimis tinggi.

Khutbah I

الْحَمْدُ للهِ الّذِيْ وَعَدَ لِلصَّابِرِيْنَ وَالشَّاكِرِيْنَ جَزَاءً مَوْفُوْرًا. أَشْهَدُ أَنْ لَاإلهَ إلَّا اللهَ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمَبْعُوْثُ إِلَى كَافَّةِ الْخَلْقِ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيْرًا

اللهم صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا وَمَوْلَنَا وَحَبِيْبِنَا وَشَفِيْعِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا

أَمَّا بَعْدُ: يَا مَعْشَرَ الْمُسْلِمِيْنَ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ. فَإِنَّهُ قَالَ فيِ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: وَمَنْ يَتَّقِ اللهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبْ

Hadirin Jamaah Jumat yang Dirahmati Allah
Pada kesempatan yang sangat istimewa ini saya berwasiat kepada diri sendiri dan jamaah yang dirahmati Allah marilah kita meneguhkan hati untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Caranya adalah dengan melaksanakan perintah dan menjauhi yang dilarang oleh-Nya. Semoga dalam setiap pekan, nantinya ketakwaan kita akan kian meningkat, amin ya rabbal alamin.

Tidak ada satupun manusia yang selama hidupnya selalu menemui apa yang diingini, selalu mendapatkan semua yang diharapkan dan segala cita-citanya menjadi nyata. Dalam setiap hidup manusia pasti ada suka dan duka. Sedih dan bahagia datang silih berganti. Maka sabar dan syukur adalah dua sikap yang harus dimiliki setiap diri agar bisa menjalani hidup dengan baik demi meraih ridha Allah SWT.

Setiap manusia dalam hidupnya ada kalanya menemui sesuatu yang cocok dengan keinginannya, ada kalanya pula menemui hal-hal yang tak diinginkannya bahkan ia benci. Dua keadaan itu mengharuskan kita bersikap sabar. Kesehatan, keselamatan, harta, pangkat dan segala kenikmatan dunia adalah hal-hal yang pasti kita inginkan. Namun, justru keadaan-keadaan inilah yang lebih membutuhkan sikap sabar. Kita harus bisa menahan diri agar tidak terjerumus dalam kenikmatan-kenikmatan fatamorgana dunia yang akan menghantarkan kita pada kehancuran. Allah berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-Munafiqun ayat 9:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ آمَنُواْ لَا تُلۡهِكُمۡ أَمۡوَٰلُكُمۡ وَلَآ أَوۡلَٰدُكُمۡ عَن ذِكۡرِ ٱللَّهِۚ وَمَن يَفۡعَلۡ ذَٰلِكَ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡخَٰسِرُونَ

Artinya: “Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barang siapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi”.

Selanjutnya, sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan dan watak manusia yaitu menjalani taat dan menjauhi maksiat. Setiap hamba harus terus bersabar dalam ketaatan melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Dan sabar tingkat tertinggi adalah sabar menghadapi musibah-musibah seperti kematian, sakit, kecelakaan, hilangnya harta dan lain sebagainya

Seorang hamba yang baik harus rela dengan ketentuan Allah dan meyakini bahwa segala yang dimilikinya adalah titipan. Semuanya akan kembali kepada Allah, Tuhan Yang Maha Menciptakan. Dengan keyakinan seperti ini maka ia akan tetap teguh dan kuat untuk melanjutkan langkah untuk meneruskan hidup. Allah berfirman dalam Surat Al-Baqarah ayat 155 dan 157:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الأمْوَالِ وَالأنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ (١٥٥) الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ (١٥٦) أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ (١٥٧

Artinya: Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata: Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun” (Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali). Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.

Dalam Al-Qur’an Surat Ibrahim ayat 7 Allah juga berfirman:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

Artinya: Dan (ingatlah juga), tatkala Rabbmu memaklumkan: Sesungguhnya jika kalian bersyukur, pasti Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.

Dua ayat Al-Qur’an ini mengandung perintah Allah SWT kepada hamba untuk bersyukur. Selanjutnya kita harus pahami bahwa hakikat makna syukur terdiri dari tiga aspek yaitu ilmu, hal dan amal. Maksud dari aspek ilmu adalah kita harus mengetahui dan menyadari bahwa segala nikmat adalah dari Allah Yang Maha Memberi nikmat dan anugerah. Maksud dari aspek hal adalah perasaan bahagia yang muncul dari pemberian nikmat Allah kepada hamba.

Jamaah yang Dirahmati Allah
Dan maksud dari aspek amal adalah melaksanakan sesuatu yang dikehendaki dan dicintai Allah sang pemberi nikmat. Aspek amal ini berkaitan dengan hati, lisan dan anggota badan. Hati harus meniatkan pemanfaatan aneka anugerah yang ada untuk kebaikan. Lisan harus mengungkapkan syukur dan puja-puji kepada Allah. Dan anggota badan harus mempergunakan segala nikmat dan anugerah di jalan yang diridhai dan dicintai Allah S.W.T.

Penting untuk diperhatikan bahwa seseorang yang mempergunakan nikmat dan anugerah Allah di jalan yang tidak diridhai dan dicintaiNya maka berarti ia telah kufur nikmat. Demikian pula jika ia tidak mempergunakan anugerah-anugerah Allah itu, membiarkan potensi-potensi diri dan hidupnya terbengkalai, tersia-sia tiada guna.

Semoga kita senantiasa dibimbing untuk mengingat, mensyukuri segala nikmat dan anugerah, dan diberi taufik dan pertolongan untuk melaksanakan penghambaan yang terbaik kepadaNya. Hal itu sebagaimana doa yang kerap kita baca berikut:

اَللَّهُمَّ أَعِنِّيْ عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

Artinya: Ya Allah! Berilah pertolongan kepadaku untuk menyebut namaMu, syukur kepadaMu dan ibadah yang baik kepadaMu.

Hidup adalah ujian. Allah berfirman dalam Al Quran Surat Al- Insan ayat 2 sebagai berikut:

هَلْ أَتَى عَلَى الإنْسَانِ حِينٌ مِنَ الدَّهْرِ لَمْ يَكُنْ شَيْئًا مَذْكُورًا (١) إِنَّا خَلَقْنَا الإنْسَانَ مِنْ نُطْفَةٍ أَمْشَاجٍ نَبْتَلِيهِ فَجَعَلْنَاهُ سَمِيعًا بَصِيرًا (٢)إِنَّا هَدَيْنَاهُ السَّبِيلَ إِمَّا شَاكِرًا وَإِمَّا كَفُورًا (٣

Artinya: Bukankah pernah datang kepada manusia satu waktu dari masa, yang ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut? Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat. Sungguh, Kami telah menunjukkan kepadanya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kufur.

Allah juga berfirman dalam Surat Al-Mulk ayat 1 dan 2 yakni:

(تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (١) الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ (٢

Artinya: “Mahasuci Allah yang di tangan-Nya segala kerajaan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Mahaperkasa lagi Maha Pengampun”.

Ayat-ayat Al-Qur’an ini memberi pengertian bahwa apapun yang diberikan kepada kita adalah ujian dan cobaan. Saat hidup bahagia dan tercukupi, itu berarti sedang diuji, bisakah bersyukur kepada Dzat Yang Maha Memberi Nikmat. Lalu bisakah mempergunakan anugerah-anugerahNya dengan baik dan benar. Adapun saat berduka atau hidup dalam kekurangan, itu juga artinya sedang diuji, bisakah bersabar menghadapi cobaan.

Jadi, pada hakikatnya nikmat dan musibah, semua adalah ujian. Karena itulah, apapun dan bagaimana pun yang terjadi di hari-hari kehidupan dunia yang fana ini, jangan sampai kita lupa kepada Allah SWT. Dengan senantiasa ingat, hati akan menjadi tenang dan tenteram. Agar kita selalu mendapatkan petunjuk dan bimbingan untuk meraih kehidupan yang baik di dunia dan di akhirat yakni surga, kehidupan yang dirahmati dan abadi.

Ayat-ayat ini juga hendaknya menyadarkan bahwa kenyataan apapun, cobaan apapun dalam hidup, semestinya dijadikan pendorong. Yakni untuk meningkatkan kualitas pribadi dan menjadikan hidup lebih bermanfaat, bermartabat dan bermakna.

بَارَكَ اللّه لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِي وَإيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ.

أَعُوْذُ بِاللّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. وَالْعَصْرِ. إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ. إِلَّا الّذِيْنَ آمَنُوْا وَعَمِلُوْا الصَّالِحَاتِ وَتَوَا صَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ.

أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ فَاسْتَغْفَرُوْا رَبَّكُمْ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمِ.

Khutbah II

اَلحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَمَا اَمَرَ. وَأَشْهَدُ اَنْ لَّا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ إِرغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الخَلاَئِقِ وَالبَشَرِ. اَللَّهُمُّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ مَا اتَّصَلَتْ عَيْنٌ بِنَظَرٍ وَاُذُنٌ بِخَبَرٍ

مَّا بَعْدُ: فَيَا َعِبادَ الله إِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى وَذَرُوْا الفَوَاخِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بطَنَ وَحَافِظُوْا عَلَى الطَّاعَةِ وَخُضُوْرِ الجُمُعَةِ وَالجَمَاعَةِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلاَئِكَةِ المُسَبِّحَةِ قُدْسِهِ، فَقَالَ تَعَالىَ وَلَمْ يَزَلْ قَائِلاً عَلِيْمًا إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَااَيَّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وِسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَصَحْبِهِ أَجمَعِيْنَ, اَللَّهُمَّ وَارْضَ عَنِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الَّذِيْنَ قَضَوْا بِالحَقِّ وَكَانُوْا بِهِ يَعْدِلُوْنَ سَادَاتِنَا أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ وَعَنْ سَائِرِ أَصْحَابِ نَبِيِّكَ أَجْمَعِيْنَ وَعَنِ التَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

اللَهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمُسلِمَاتِ وَالمُؤْمِنِينَ وَالمُؤْمِنَاتِ اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ. اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالمُسْلِمِيْنَ وَأَعْلِ كَلِمَتَكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ, اَللَّهُمَّ انْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ المُسْلِمِيْنَ. اَللَّهُمَّ أَهلِكِ اليَهُوْدَ وَالنَّصَارَى وَالْكَفَرَةَ وَالْمُشْرِكِيْنَ. اَللَّهُمَّ اَمِنَّا فِى دُوْرِنَا وَأَصْلِحْ وُلاَةَ أُمَوْرِنَا وَاجْعَلِ اللَّهُمَّ وِلاَيَتَنَا فِمَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ. اَللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الغَلاَءَ وَالوَبَاءَ والرِّبَا وَالزِّنَا وَالزَّلاَزِلَ وَالْمِحَنَ وَسُوْءَ الفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بِلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلاَدِ المُسلِمِينَ العَامَّةً يَارَبَّ العَالَمِينَ رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

عِبادَ الله ! إِنَّ اللهَ يَأمُرُ بِالعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِى القُربَى وَيَنْهَى عَنِ الفَخْشَاءِ وَالمُنْكَرِ وَالبَغْيِ يَعِظُكُم لَعَلَّكُم تَذَكَّرُوْنَ, فَاذْكُرُوْا اللهَ العَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ

اشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكبَرُ

Wallohu A’lamu Bishowaab

Semoga Bermanfaat.

Sumber: nu.or.id