Membangun dan Memperkuat Solidaritas Organik Dari Semua Elemen Manusia

Membangun dan Memperkuat Solidaritas Organik Dari Semua Elemen Manusia

Almunawwar.or.id – Manusia sejatinya adalah makhluk sosial yang tentunya sangat membutuhkan keharmonisan sebuah hubungan dan ikatan satu sama lain, meski pada umumnya manusia memberikan dan menyatakan sifat lewat individualitas dan golongan. Dalam hak ini keharmonisan sebuah hubungan manusia dengan yang lainnya terlahir dari dua sisi yang memang saling bereratan satu sama lainnya sehingga sangat membutuhkan sebuah idealisme yang kuat.

Dimana sebuah hantaran yang di kemukakan dari cara pandang seseorang terhadap arti sebuah kemajemukan yang terlahir dari nilia sisi sosial seorang manusia itu seolah sudah menjadi sandaran dalam menjadikannya satu kemajuan. Membangun solidaritas organik memang sangat sulit tanpa di barengi dengan kesadaran diri dalam menuangkan sebuah aspirasi, tidak tertuju pada sebuah kemakmuran pribadi namun jauh lebih penting adalah tentang sistem membangun solidaritas dan sosialisme yang kuat.

Seolah menjembatani dari adanya golongan dua masyarakat, Dimana real nya mereka yang terlahir di pedesaan memiliki kultur yang kuat bagiamana cara membangun sebuah kebersamaan yang berakhir pada kemajemukan karena persamaan letak demografis dan kulturisasi, Sehingga mampu membangun solidaritasme yang kuat karena seringnya berinteraksi dan hadirnya memori kolektif dengan apa yang sering di jadikan sebuah kegiatan hal layak banyak.

Berbeda dengan mereka yang berada di perkotaan, kecenderungan karakter individualitas seolah menonjol di banding dengan membangun sebuha kemajemukan, Hal ini tidak lepas dari faktor pekerjaan yang sangat mendorong dan mempengaruhi kultur dari sebuah kebiasaan. Bisa di katakan sesuatu yang bersifat kepentingan teknis itu sangat mendasar terhadap pola kehidupan yang berisfat organik karena tuntutan dari sebuah pekerjaan yang melahirkan kesibukan.

Sehingga untuk bisa membangun itu bukan hal yang mudah, Dan ini nampak wajar karena memang dinamika masyarakat perkotaan pada umumnya tidak jauh seperti itu. Karena memang mereka datang sebagai kaum urbanisasi sehingga kecenderungannya apatis karena tidak mengenal lebih jauh satu sama lain, tidak seperti masyarakat di desa meskipun berjarak dari ujung desa ke ujung lainnya tetap saling mengenal satu sama lain.

Dari sekilas pandangan di atas, penulis teringat konsep solidaritas mekanik dan solidaritas organik yang dikemukakan oleh Emile Durkheim (1858-1917). Sebetulnya konsep solidaritas pertama kali dirumuskan oleh Ilmuwan Muslim, Ibnu Khaldun (1332-1406) dalam Kitab Muqaddimah-nya dengan istilah Ashabiyah (solidaritas kelompok). Ibnu Khaldun salah seorang Ilmuwan yang menjadi rujukan utama Durkheim dalam mengungkapkan sejumlah teori sosiologinya sehingga Ibnu Khaldun digelari sebagai Bapak Sosiologi.

Sedangkan, solidaritas organik yaitu masyarakat atau kelompok sosial yang didasarkan pada saling ketergantungan antaranggota dan spesialisasi pembagian kerja dengan hukum yang berlaku bersifat restitutive atau memulihkan. Dalam solidaritas organik, motivasi anggotanya sebagian besar karena ingin mendapatkan upah atau gaji yang diterima sebagai imbalan atas peran sertanya dalam kelompok. Solidaritas organik muncul karena adanya pembagian kerja atau spesialisasi sehingga saling ketergantungan antaranggota sangat tinggi.

Sederhananya, solidaritas mekanik dapat dikatakan masyarakat atau kelompok sosial yang didasarkan pada kesadaran kolektif, kebersamaan, dan hukum yang berlaku bersifat menekan. Dalam solidaritas mekanik ada totalitas kepercayaan dan sentimen-sentimen bersama yang ada pada masyarakat yang sama. Individualitas tidak berkembang karena kehidupan masyarakat lebih berorientasi pada konformitas (kepentingan bersama). Ciri khas dari solidaritas mekanik adalah solidaritas didasarkan pada tingkat homogenitas yang tinggi dalam kepercayaan, sentimen, dan kebersamaan mencapai kepentingan bersama.

Religiusitas komunal yang dikreasikan masyarakat Nusantara terbukti mampu membangun harmonisasi bangsa di tengah kemajemukan. Tradisi sedekah bumi tidak hanya berisi masyarakat yang membaca wirid, dzikir, dan kalimat-kalimat thoyyibah secara berjamaah di tanah lapang di tengah kampung, tetapi juga sebagai ungkapan rasa syukur atas berkah yang mereka peroleh dari tanah dan air yang mereka pijak. Hal ini memberikan spirit kebangsaan bahwa menjaga tanah air menjadi kewajiban bersama sebagai warga bangsa.

Benang merah yang dapat ditarik dari konseptualisasi di atas adalah komunalisme, baik dalam masyarakat perdesaan maupun perkotaan. Baik solidaritas mekanik maupun organik. Hidup mengelompok yang diikat tali persaudaraan dan kebersamaan ini ikut membentuk sebuah tradisi dan budaya baru, baik dalam bingkai sosial, agama, dan lain-lain. Kehidupan masyarakat pun semakin harmonis karena kebersamaan diperkuat dengan nilai-nilai ajaran agama dalam berbagai ritus dan amaliyah.