Tata Cara Bacaan Niat Do’a Sholat Tarawih Dan Witir Lengkap

Tata Cara Bacaan Niat Do’a Sholat Tarawih Dan Witir Lengkap

Almunawwar.or.id – Amalan amalan penting selama bulan suci ramadhan bagi seorang muslim yang beriman itu sangat banyak sekali baik siang maupun malam. Terkhusus untuk malam ramadhan di anjurkan untuk menghidupkannya dengan berbagai amalan ibadah saalah satu di antaranya adalah sholat tarawih dan sholat witir yang sangat di anjurkan untuk di laksanakan pada setiap malam selama bulan suci ramadhan.

Shalat tarawih sendiri merupakan shalat sunat muakad yang sangat di anjurkan berjamaa’ah dalam pelaksanannya terkecuali bagi yang sedang udzur maka secara munfarid pun baik di masjid maupun di rumah itu tetap mendapat pahala dari pengamalannya.  Termasuk dari penataan dari pelapadzan niat sholat tarawih untuk lebih menyempurnakan amalan malam bulan ramadhan.

Dinamakan Shalat Tarawih karena memang melakukannya beristirahat sejenak di antara dua kali salam atau istirahat setiap empat rakaat sebagaimana yang tertera pada kitab Ibnu Hajar al-‘Asqalani, Fathul Bâri Syaru Shahîhil Bukhâri juz IV, halaman 250. Sebagai salah satu redkasi yang menerangkan tentang haliah masalah shalat tarawih.

Sedangkan shalat witir merupakan shalat sunat yang memiliki jumlah rokaat ganjil sesuai dengan arti dari pada witir itu sendiri, Mengenai pelaksanannya itu lebih afdhol dilakukan sendirian terkecuali pada bulan ramadhan, Dimana shalat witir di laksanakan setelah shalat tarawih selesai dengan jumlah tiga raka’at baik dengan dua salam maupun satu salam. Jumlah tiga rakaat tersebut lebih utama dari pada satu raka’at.

Selain satu raka’at dan tiga raka’at, Shalat witir juga bisa di laksanakan dalam lima, tujuh sampai dengan sebelas raka’at dan tidak boleh melebihi dari pada jumlah maksimal tersebut karena memang tidak ada dari Rasulnya. Dua shalat sunat ini yaitu Tarawih dan Witir sangat di anjurkan sekali untuk selalu di amalkan oleh setiap umat islam yang beriman pada setiap malam selama bulan puasa ramadhan.

Tata Cara Shalat Tarawih
Menurut Madzhab Syafi’i sebagai madzhab paling banyak pengikutnya di Indonesia dalam pelaksanaan shalat tarawih itu meliputi gerakan shalat sebagai berikut:
1. Pelafalan niat shalat Tarawih.
Niat Shalat Tarawih Arab

اُصَلِّى سُنَّةَ التَّرَاوِيْحِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً لِلهِ تَعَالَى

Latin “Ushalli sunnatat Tarāwīhi rak‘atayni mustaqbilal qiblati adā’an lillāhi ta‘ālā.

Artinya: “Aku menyengaja sembahyang sunnah Tarawih dua rakaat dengan menghadap kiblat, tunai karena Allah SWT.”

2. Niat di dalam hati ketika takbiratul ihram.
3. Mengucap takbir ketika takbiratul ihram sambil niat di dalam hati.
4. Baca ta‘awudz dan Surat Al-Fatihah. Setelah itu baca salah satu surat pendek Al-Quran dengan jahar (lantang).
5. Rukuk.
6. Itidal.
7. Sujud pertama.
8. Duduk di antara dua sujud.
9. Sujud kedua.
10. Duduk istirahat atau duduk sejenak sebelum bangkit untuk mengerjakan rakaat kedua.
11. Bangkit dari duduk, lalu mengerjakan rakaat kedua dengan gerakan yang sama dengan rakaat pertama.
12. Salam pada rakaat kedua.
13. Istighfar dan dianjurkan membaca doa kamilin setelah selesai shalat Tarawih.

Doa Setelah Sholat Tarawih Arab

اَللهُمَّ اجْعَلْنَا بِالْإِيْمَانِ كَامِلِيْنَ. وَلِلْفَرَائِضِ مُؤَدِّيْنَ. وَلِلصَّلاَةِ حَافِظِيْنَ. وَلِلزَّكَاةِ فَاعِلِيْنَ. وَلِمَا عِنْدَكَ طَالِبِيْنَ. وَلِعَفْوِكَ رَاجِيْنَ. وَبِالْهُدَى مُتَمَسِّكِيْنَ. وَعَنِ الَّلغْوِ مُعْرِضِيْنَ. وَفِى الدُّنْيَا زَاهِدِيْنَ. وَفِى اْلآخِرَةِ رَاغِبِيْنَ. وَبَالْقَضَاءِ رَاضِيْنَ. وَلِلنَّعْمَاءِ شَاكِرِيْنَ. وَعَلَى الْبَلاَءِ صَابِرِيْنَ. وَتَحْتَ لِوَاءِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ سَائِرِيْنَ وَعَلَى الْحَوْضِ وَارِدِيْنَ. وَإِلَى الْجَنَّةِ دَاخِلِيْنَ. وَمِنَ النَّارِ نَاجِيْنَ. وَعَلى سَرِيْرِالْكَرَامَةِ قَاعِدِيْنَ. وَبِحُوْرٍعِيْنٍ مُتَزَوِّجِيْنَ. وَمِنْ سُنْدُسٍ وَاِسْتَبْرَقٍ وَدِيْبَاجٍ مُتَلَبِّسِيْنَ. وَمِنْ طَعَامِ الْجَنَّةِ آكِلِيْنَ. وَمِنْ لَبَنٍ وَعَسَلٍ مُصَفًّى شَارِبِيْنَ. بِأَكْوَابٍ وَّأَبَارِيْقَ وَكَأْسٍ مِّنْ مَعِيْن. مَعَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّيْنَ وَالصِّدِّيْقِيْنَ وَالشُّهَدَآءِ وَالصَّالِحِيْنَ وَحَسُنَ أُولئِكَ رَفِيْقًا. ذلِكَ الْفَضْلُ مِنَ اللهِ وَكَفَى بِاللهِ عَلِيْمًا. اَللهُمَّ اجْعَلْنَا فِى هٰذِهِ لَيْلَةِ الشَّهْرِالشَّرِيْفَةِ الْمُبَارَكَةِ مِنَ السُّعَدَاءِ الْمَقْبُوْلِيْنَ. وَلاَتَجْعَلْنَا مِنَ اْلأَشْقِيَاءِ الْمَرْدُوْدِيْنَ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِه وَصَحْبِه أَجْمَعِيْنَ. بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Latin :
Allâhummaj‘alnâ bil îmâni kâmilîn. Wa lil farâidli muaddîn. Wa lish-shlâti hâfidhîn. Wa liz-zakâti fâ‘ilîn. Wa lima ‘indaka thâlibîn. Wa li ‘afwika râjîn. Wa bil-hudâ mutamassikîn. Wa ‘anil laghwi mu‘ridlîn. Wa fid-dunyâ zâhdîn. Wa fil ‘âkhirati râghibîn. Wa bil-qadlâ’I râdlîn. Wa lin na‘mâ’I syâkirîn. Wa ‘alal balâ’i shâbirîn. Wa tahta liwâ’i muhammadin shallallâhu ‘alaihi wasallam yaumal qiyâmati sâ’irîna wa alal haudli wâridîn. Wa ilal jannati dâkhilîn. Wa minan nâri nâjîn. Wa ‘alâ sariirl karâmati qâ’idîn. Wa bi hûrun ‘in mutazawwijîn. Wa min sundusin wa istabraqîn wadîbâjin mutalabbisîn. Wa min tha‘âmil jannati âkilîn. Wa min labanin wa ‘asalin mushaffan syâribîn. Bi akwâbin wa abârîqa wa ka‘sin min ma‘în. Ma‘al ladzîna an‘amta ‘alaihim minan nabiyyîna wash shiddîqîna wasy syuhadâ’i wash shâlihîna wa hasuna ulâ’ika rafîqan. Dâlikal fadl-lu minallâhi wa kafâ billâhi ‘alîman. Allâhummaj‘alnâ fî hâdzihil lailatisy syahrisy syarîfail mubârakah minas su‘adâ’il maqbûlîn. Wa lâ taj‘alnâ minal asyqiyâ’il mardûdîn. Wa shallallâhu ‘alâ sayyidinâ muhammadin wa âlihi wa shahbihi ajma‘în. Birahmatika yâ arhamar râhimîn wal hamdulillâhi rabbil ‘âlamîn.

Artinya: “Yaa Allah, jadikanlah kami orang-orang yang sempurna imannya, yang memenuhi kewajiban-kewajiban, yang memelihara shalat, yang mengeluarkan zakat, yang mencari apa yang ada di sisi-Mu, yang mengharapkan ampunan-Mu, yang berpegang pada petunjuk, yang berpaling dari kebatilan, yang zuhud di dunia, yang menyenangi akhirat, yang ridha dengan qadla-Mu (ketentuan-Mu), yang mensyukuri nikmat, yang sabar atas segala musibah, yang berada di bawah panji-panji junjungan kami, Nabi Muhammad, pada hari kiamat, yang mengunjungi telaga (Nabi Muhammad), yang masuk ke dalam surga, yang selamat dari api neraka, yang duduk di atas ranjang kemuliaan, yang menikah dengan para bidadari, yang mengenakan berbagai sutra ,yang makan makanan surga, yang minum susu dan madu murni dengan gelas, cangkir, dan cawan bersama orang-orang yang Engkau beri nikmat dari kalangan para nabi, shiddiqin, syuhada dan orang-orang shalih. Mereka itulah teman yang terbaik. Itulah keutamaan (anugerah) dari Allah, dan cukuplah bahwa Allah Maha Mengetahui. Ya Allah, jadikanlah kami pada malam yang mulia dan diberkahi ini termasuk orang-orang yang bahagia dan diterima amalnya, dan janganlah Engkau jadikan kami tergolong orang-orang yang celaka dan ditolak amalnya. Semoga Allah mencurahkan rahmat-Nya atas junjungan kami Muhammad, serta seluruh keluarga dan shahabat beliau. Berkat rahmat-Mu, wahai Yang Paling Penyayang di antara yang penyayang. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.”

Catatan :

Shalat Tarawih sendiri dapat dikerjakan secara ringkas dengan membaca surat-surat pendek setelah Surat Al-Fatihah. Tetapi Shalat Tarawih sendiri juga dapat dikerjakan secara lama dengan memilih surat-surat panjang dalam Al-Quran. Seseorang dapat membaca Surat Al-Fatihah saja pada setiap rakaat tanpa surat pendek atau surat panjang meski hal ini tidak dianjurkan.

Dalil Shalat Tarawih

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ “

Barangsiapa ibadah (tarawih) di bulan Ramadhan seraya beriman dan ikhlas, maka diampuni baginya dosa yang telah lampau” (HR al-Bukhari, Muslim, dan lainnya). Ulama sepakat bahwa redaksi “qâma ramadlâna” di dalam hadits tersebut diarahkan pada shalat tarawih.

Keutamaan Shalat Tarawih
1. Diampuni semua dosa yang telah lalu. Keutamaan pertama ini sesuai dengan teks hadits yang telah disebutkan di atas, yang artinya, “Barang siapa melakukan shalat (Tarawih) pada bulan Ramadhan dengan iman dan ikhlas (karena Allah ta’âlâ) maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (Muttafaqun ‘Alaih).

2. Mendapatkan pahala beribadah satu malam penuh. Keutamaan kedua ini berdasarkan hadits Rasulullah saw riwayat at-Tirmdzi, Ibnu Majah dan an-Nasa’i:

مَنْ قَامَ مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ، كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ

Artinya, “Barang siapa shalat Tarawih bersama imam sampai selesai, maka untuknya dicatat seperti beribadah semalam.”

Tata Cara Shalat Witir
Dalam pelaksanaan shalat witir itu ketentuannya merupakan shalat penutup pada shalat malam, Artinya jika seseorang melaksanakan shalat sunat lain seperti shalat tahajjud dan shalat lainnya maka sebagai penutupnya adalah dengan shalat witir, Itulah sebabnya mengapa shalat witir pada bulan Ramadhan itu di laksanakan setelah shalat Tarawih selesai. Dalam artian waktu shalat witir itu di laksanakan setelah waktu isya sampai menjelang shubuh.

Pada ketentuan pelaksanaan shalat Witir berhubung jumlah rokaatnya itu banyak, Maka Jika seseorang melaksanakan witir lebih tiga rakaat, maka dilakukan setiap dua rakaat salam dan ditutup dengan satu rakaat. Bila melaksanakan tiga rakaat boleh dilakukan langsung rakaat seperti shalat Maghrib. Tetapi sebagian ulama melihat bahwa dipisah lebih utama, yaitu dua rakaat salam lalu satu rakaat, sebagaimana keterangan hadits “Janganlah menyamakan witirmu dengan Maghrib”. Namun demikian tiga rakaat berturu-turut lebih utama dibandingkan hanya satu rakaat.

Niat Shalat Witir 2 Raka’at

أصلى سنة من الوتر ركعتين لله تعالى

Latin Ushallii sunnatam minal witri rak’ataini lillaahhi ta’aalaa

Artinya: “Aku niat shalat sunnah witir 2 rakaat karena Allah ta’ala”.

Niat Shalat Witir 1 rakaat

أصلى سنة من الوتر ركعة لله تعالى

Latin Ushallii sunnatal witri rak’atal lillaahhi ta’aalaa.

Artinya “Aku niat shalat sunnat witir satu rakaat karena Allah ta’ala”

Catatan:
Adapun surat yang di bacakan pada sholat witir yang dilaksankan tiga ra’kaat tersebut adalah Surat Al’Ala pada raka’at pertama, Surat Al Kafirun pada Raka’at kedua, Sedangkan pada satu raka’at yang terpisah itu di bacakan surat Alikhlas, Alfalaq dan Annas.

Doa Setelah Shalat Witir

سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ 3 X اللَّهُمَّ إنِّي أَعُوذُ بِرِضَاك مِنْ سَخَطِك وَبِمُعَافَاتِك مِنْ عُقُوبَتِك وَأَعُوذُ بِك مِنْك لَا أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْك أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْت عَلَى نَفْسِك .

Allahumma inni a’udzu biridhaka min sakhathika wa bi mu’afatika min ‘uqubatika wa a’udzubika minka la uhshi tsana’an ‘alaika anta kama atsnaita ‘ala nafsika

Dalil Shalat Witir

عن ابن عمر رضي الله عنهما قال : قال النبي صلى الله عليه وسلم اجعلوا أخرصلاتكم بالليل وترا

Kerjakanlah shalat witir sebagai shalat malam terakhirmu

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.