Objektivitas Media Sosial Menjadi Wabah Euforia Kebebasan Pendakwah

Objektivitas Media Sosial Menjadi Wabah Euforia Kebebasan Pendakwah

Almunawwar.or.id – Tidak dapat di pungkiri memang kemajuan dunia digital saat ini sangat mempengaruhi sisi kehidupan umat manusia termasuk dalam soal asumi dan cara pandang masyarakat banyak saat ini ketika mendapatkan informasi dalam masalah dakwah ataupun syiar melalui internet. Terlebih di ranah sosial media yang sudah menjadi fasilitas publik dalam menuangkan sebuah dedikasi ide maupoun cara menyampaikan sebuah opini dan ajakan.

Seakan euforia menyambut ketika kedatangan jaman milenial ini sebagai tanda sebuah kemajuan dalam semua aspek kehidupan, tanpa di sadari di balik kegemerlapannya kemudahan tersebut ada titik yang mesti di perhatikan bahkan di garis bawahi tentang bagaimana seseorang mengajak dan mengiring pada sebuah pemikiran yang justru itu akan menimbulkan sebuah ketimpangan, dan tidak menutup kemungkinan hal tersebut sering terjadi di jaman modern sekarang ini.

Tidak salah memang jika mendapatkan sebuah nilai dakwah yang ada dalam dunia digital, namun akan lebih indahnya apabil di cermati secara seksama kajian dari dakwah tersebut jangan sampai salah mengartikan apalagi salah kaprah dalam mengekplorasinya, untuk itu sangat di butuhkan filterisasi dalam menangkal hal-hal sekaligus menyaring sebuah dakwah agar tidak mudah di cerna oleh publik tanpa proses pemikiran tabayun.

Salah satu pertimbangan dalam menyambut kedatangan arus dari globalisasi digital ini, maka tulisan opini dari salah satu santri asal Depok Jawa Barat menjadi sebuah karya terbaik dalam menuangkan pola pemikirannya tentnag sebuah euforia di tengah publik dalam menjadikan media sosial sebagai bagian dari pola dakwah dan syiar banyak orang selama ini.

Seolah sudah menjadi sebuah wabah euforia para pendakwah dalam menjadikan media sosial sebagai sarana tepat untuk tepat dan cepat dalam menyampaikan sebuha seruan ataupun syiar, Wabah “Euforia” akan mengalihkan manusia dari rasa takzim kepada Allah Swt ke manusia. Mereka orang-orang fanatik yang sangat kolot, berlindung di balik topeng martabat dan merasa sebagai paling bertanggung jawab akan kelanggengan tata hidup kemasyarakatan.

Dalam konteks ini euforia yang memperlihatkan tingginya minat masyarakat terhadap konten-konten kajian islami yang berasal dari penyajian informasi di kanal-kanal media. Tentunya diperlukan sinergi yang baik antara pemerintah dan kelembagaan pendidikan pesantren mesti seiring dengan dukungan sarana dan prasarana yang diselaraskan dengan jaman kekinian. Karena berkaitan langsung dengan penyiapan generasi muda Muslim mendatang.

Jika kaum muda NU atau katakanlah sebagai ‘Aktivis Digital’ yang sumber daya manusia (SDM) nya berbasis lulusan pondok pesantren dapat menjalankan dan menerapkan tiga ukhuwwah dengan proporsional dan selaras, maka tumbuh kembali rasa percaya diri umat Islam untuk berdakwah secara bijak dan berdakwah dengan mengamalkan Islam Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyah. Baik di atas mimbar-mimbar masjid ataupun di kanal-kanal sosial media.

Dengan fleksibilitas di dalam penyebaran dakwah Islam melalui konsep Tri Ukhuwwah di kanal-kanal sosial media diantaranya: ukhuwwah islamiyah (persaudaraan umat Islam) juga terjalinnya ukhuwwah basyariyah) (persaudaraan kemanusiaan) dan ukhuwwah wathaniyah (persaudaraan kebangsaan). Dengan fleksibilitas di dalam penyebaran dakwah Islam melalui konsep Tri Ukhuwwah di kanal-kanal sosial media diantaranya: ukhuwwah islamiyah (persaudaraan umat Islam) juga terjalinnya ukhuwwah basyariyah) (persaudaraan kemanusiaan) dan ukhuwwah wathaniyah (persaudaraan kebangsaan).

Anjuran untuk saling menjaga antar sesama kalangan umat Islam di tengah pandemi atau hifdzun nafs (menjaga jiwa) dengan kata lain diperlukan juga untuk menjaga jiwa orang lain. Terlebih lagi terhadap kelompok-kelompok masyarakat di tanah media sosial yang acapkali mengatasnamakan kebebasan dalam beragama tampaknya tidak menggunakan pola ‘Tiga Ukhuwwah’. Sehingga agak menodai kemaslahatan umat atau Mashlahatul Ummah dan mementingkan diri sendiri.

Untuk menciptakan tatanan sosial-kemasyarakatan yang fokusnya pada wujud dari akhlakul karimah. Tak lagi sebatas mengejar sensasi melainkan esensi nilai-nilai keislaman yang sudah menjadi manifestasi para pendiri dan ulama pendahulu. Hal ini sebaiknya ditanggapi dengan menyajikan informasi dan konten kajian Islami yang menyejukkan umat. Karena kelompok pendakwah dengan menebarkan permusuhan, konten adu domba dan mengumbar kedengkian dengan cara yang bar-bar bukanlah ajaran Kanjeng Nabi Muhammad Saw.

“Undzur maa qoola wa laa tandzur man qoola,” (lihatlah apa yang diucapkan, dan jangan lah melihat siapa yang mengucapkan).

Tentunya masyarakat kita pada dewasa kini dapat memilah dan memilih sumber wadah arus informasi keagamaan yang dapat membasuh ruhani dari kemarau mahabbah Islam ramah dan menjaga jiwa (hifdzun nafs) dari gelombang deras pendakwah yang dapat memperkeruh kemaslahatan umat.

Adapun proses tabayyun terhadap arus informasi atau konten melalui sosial media baik itu konten positif atau negatif. Sehingga dipertimbangkan aspek sumber informasi (sanad)nya, begitu juga aspek kebenaran konten (matan)nya, yang meliputi isi dan maksud dari konten tersebut. Serta memilih diksi-diksi yang tidak provokatif yang dapat membangkitkan semangat kebencian (al-baghdla’) serta permusuhan (al-‘adawah).

Agar terhindar dari sajian konten yang berisi hoaks, fitnah, namimah, ujaran kebencian dan hal-hal yang terlarang baik secara agama maupun ketentuan peraturan perundang-undangan. Sehingga seluruh pengguna platform-platform di sosial media memiliki pedoman dalam menggunakan media sosial. Media sosial dapat digunakan untuk sarana silaturahmi, menyebarkan informasi, dakwah, dan bermuamalah serta dapat memaknai spirit energi “IT Jannati” , dalam bersosial media. Karena sosial mediamu itu adalah passion-mu untuk berdakwah.

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
jabar.nu.or.id
almunawwar.or.id

Wabah Euforia Kebebasan Pendakwah di