Perbedaan Dalil Dzanni Dan Dalil Qath’i Menurut Kajian Ushul Fiqh

Perbedaan Dalil Dzanni Dan Dalil Qath'i Menurut Kajian Ushul Fiqh

Almunawwar.or.id – Dalam masalah ketetapan hukum yang bergulir dalam agama ada yang di sebut dengan dalil dzanni (Dzonni) ada juga yang di sebut dengan dalil Qath’i (Qoth’i), Kedua dalil tersebut merupakan dasar dari petunjuk kepastian sebuah hukum yang di sandarkan pada sebuah permasalahan, Sehingga bisa diketahui akan status dari pada masalah tersebut sesuai dengan ketetapan hukum agama dalam masalah ini adalah tinjauan hukum ilmu usul fiqh.

Dan sering sekali kedua dalil tersebut muncul di tengah-tengah masyarakat banyak, Sehingga bagi orang awwam tentunya sangat di butuhkan sebuah penjelasan yang benar-benar detail guna bisa mengetahui kejelasan sebuah perkara atau masalah yang sering di jumpai dalam menjalankan kehidupan sehari-hari. Hal inilah yang membuat Ulama ahli fiqih dan usul Fiqih menerangkan akan titik persamaan dan perbedaan serta tujuan dari kedua dalil itu.

Dalil sendiri merupakan sebuah petunjuk yang bersumber dari dua sumber hukum yaitu alquran dan alhdits, sedangkan dalam permasalahan dzanni dan qoth’i biasanya di berlakukan pada masalah tata cara peribadahan dalam hal ini yang tertuang pada penjelasan ilmu fiqh. Lalu bagaimana cara membedakan kedua dalil itu? Berikut penjelasannya menurut kajian para Ulam ahli usul fiqih yang bersumber dari para asatidz piss-ktb.com.

Keterangan syeikh Abdul Wahhab Kholaf dalam kitabnya : Nash Al-Qur’an dan Hadits dari segi dalil yang memuat hukum-hukum terbagi menjadi 2 bagian yaitu bersifat Qoth’i dilalah (dalil qoth’i) dan Dzonni Dilalah (dalil dzonni). Dalil Qoth’i adalah suatu dalil (nash qur’an dan Hadits) yang menunjukan ma’na yang tertentu yang dapat di pahami dan tidak memuat ta’wil kepada kepahaman ma’na lainya. Contoh:

قوله تعالى :”ولكم نصف ما ترك أزواجكم ان لم يكن لهن ولد”

Bagian waris suami adalah 1/2 jika tidak punya anak. Pada kasus ini tidak bisa di ta’wil sehingga muncul beberapa pendapat, oleh karenanya nash tersebut di sebut Qoth’i dilalah /dalil qoth’i. Dalil Dzonniy adalah suatu dalil (nash qur’an dan hadits) yang menunjukan suatu ma’kna akan tetapi memuat ta’wil dari makna yang tertera ke makna yang lainya. Contoh:

قوله تعالى :” والمطلقات يتربصن بأنفسهن ثلاثة قروء”

Pada lafadz Quru’ di situ memiliki 2 makna secara bahasa yaitu suci dan haid.
Adapun nash tersebut memuat ta’wil yaitu:
1). 3 kali sucian
2). 3 kali haid

Oleh karenanya nash tersebut tidak bersifat qoth’i dilalah, dan oleh karenanya ulama berbeda pendapat dalam hal iddah wanita yang di talaq, yaitu 3 kali haid atau 3 kali suci , sehingga nash tersebut dari segi dalil di sebut dzoniy dilalah. Nash yang di dalamnya menggunakan lafadz musytarok, lafadz ‘Am atau lafadz mutlaq maka yang demikian di sebut dalil dzonniy, karena hal tersebut menunjukkan terhadap suatu ma’na serta memuat suatu dalil yang menunjukan terhadap ma’na lain (ta’wil). Seperti :

حرمت عليكم الميتة والدم

Pada lafadz Al Maitatu (الميتة) adalah lafad ‘Aam yang memuat menunjukkan bahwa seluruh bangkai hukumnya haram dan memuat takhshis yaitu keharamanya selain bangkai hewan/ikan laut. Bisa di telaah kembali keterangan yang ada dalam redaksi di bawah ini.

– Ilmu ushul fiqh hal 35 :

واما نصوص القرآن من جهة دلالتها على ما تضمنته من الاحكام فتنقسم الى قسمين :نص قطعى الدلالة على حكمه،ونص ظنى الدلالة على حكمه. فالنص القطعى الدلالة هو ما دل على معنى متعين فهمه منه ولا يحتمل تأويلا ولا مجال لفهم معنى غيره منه،مثل قوله تعالى :”ولكم نصف ما ترك أزواجكم ان لم يكن لهن ولد” .فهذا قطعى الدلالة على ان فرض الزوج فى هذه الحال النصف لا غير . الى ان قال واما النص الظنى الدلالة فهو ما دل على معنى ولكن يحتمل أن يؤول ويصرف عن هذا المعنى ويراد منه معنى غيره مثل قوله تعالى :” والمطلقات يتربصن بأنفسهن ثلاثة قروء” فلفظ القروء فى اللغة العربية مشترك بين معنيين يطلق لغة على الطهر ،ويطلق لغة على الحيض.
والنص دل على ان المطلقات يتربصن ثلاثة قروء،فيحتمل ان يراد ثلاثة اطهار ويحتمل ان يراد ثلاث حيضات فهو ليس قطعى الدلالة على معنى واحد من المعنيين ولهذا اختلف المجتهدون فى ان عدة المطلقة ثلاث حيضات او ثلاثة اطهار ومثل قوله تعالى :”حرمت عليكم الميتة والدم” فلفظ الميتة عام والنص يحتمل الدلالة على تحريم كل الميتة ،ويحتمل ان يخصص التحريم بما عدا ميتة البحر،فالنص الذى فيه نص مشترك او لفظ عام او لفظ مطلق او نحو هذا يكون ظنى الدلالة لانه يدل على معنى ويحتمل الدلالة على غيره.

– Ilmu Ushul Fiqh hal 42 :

واما من جهة الدلالة فكل سنة من هذه الاقسام قد تكون قطعى الدلالة ،اذا كان نصها لا يحتمل تأويلا .وقظ تكون ظنية الدلالة اذا كان نصها يحتمل التأويل.

Pada akhir pembahasan mengenai dalil Nash Al-qur’an dan hadits mushonnif memberi kesimpulan : Perbandingan antara nash Al-qur’an dan Al-hadits dari segi Qoth’iyah dan Dzonniyyah, dapat ditarik kesimpulan :
1.Bahwa seluruh Nash-nash Al-qur’an Al-karim srluruhnya bersifat Qoth’iyyah Al-wuruud yaitu Nash yang diturunkan oleh Allah kepada Rosulnya kemudian nabi menyampaikanya kepada umatnya tanpa ada perubahan/tahrif dan tabdil/pergantian sedikitpun. Dan dalam nash Al-qur’an dari segi dilalah terdapat Nash yang bersifat Qoth’i dan Dzonniy.
2.Adapun As-sunnah (hadits) dari segi wurudnya ada yang bersifat Qoth’i (hadits mutawatir) dan ada yang bersifat dzonniy.dan masing-masing dari segi dilalahnya ada yang bersifat qoyh’i dan dzonni. Wallahu a’lam. [Mujawib : Ustadz Santri Kluyuran Bengi]

ومن المقارنة بين نصوص القران ونصوص السنة من جهة القطعية والظنية،ينتج ان نصوص القران الكريم كلها قطعية الورود ومنها ما هو قطعية الدلالة ومنها ما هو ظنى الدلالة ،واما السنة فمنها ما هو قطعي الورود ومنها ما هو ظنى الورود .وكل واحد منهما قد يكون قطعى الدلالة وقد يكون ظنى الدلالة.

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
piss-ktb.com
almunawwar.or.id