Safar, Di Balik Nama Latar Belakang dan Mitos diDalamnya

Almunawwar.or.id – Bulan Shofar atau safar itu merupakan bulan kedua dalam kalender Hijriyah, Pada umumnya pada bulan ini tidak sedikit orang yang beranggapan adanya sebuah spekulasi yang mengarah pada sebuah hal yang tidak di harapkan, Sehingga tidak sedikit yang mengira akan pengaruh bulan sfara tersebut terhadap sisi kehidupan umat Manusia.

Padahal sejatinya semua bulan yang jumlahnya 12 tersebut adalah sebuah anugerah yang luar biasa dari Alloh S.W.T bagi semua mahluqnya tanpa terkecuali, Hanya saja pada bulan tertentu itu terdapat sebuah kejadian yang istimewa contoh seperti pada bulan Ramadhan misalnya. Dan sosok seorag Nabi atau Rasul menjadi suri tauladan terhadap keistimewaan yang mengiringi sebuah kejadian di bulan tersebut.

Kembali ke Bulan Safar, Dimana sebuah keadaan yang berlangsung pada orang -orang arab tempo dulu itu sepi dan sunyi karena harus keluar meninggalkan rumah untuk bepergian atau maju ke medan perang, Sehingga secara kebetulan kondisi daerah dan wilayah arab pada saat itu benar-benar sunyi, sesuai dengan arti dari pada Safar itu sendiri.

Sebagaimana yang di jelaskan oleh seorang Ulama besar ahli tafsir yang mengatakan tentang arti dari Safar tersebut, beliau adalah Imam Abul Fida Ismail bin Umar ad-Dimisyqi, atau yang lebih dikenal dengan nama Imam Ibnu Katsir (wafat 774 H). Beliau mengatakan :

صَفَرْ: سُمِيَ بِذَلِكَ لِخُلُوِّ بُيُوْتِهِمْ مِنْهُمْ، حِيْنَ يَخْرُجُوْنَ لِلْقِتَالِ وَالْأَسْفَارِ

Artinya: “Safar dinamakan dengan nama tersebut, karena sepinya rumah-rumah mereka dari mereka, ketika mereka keluar untuk perang dan bepergian.” (Ibnu Katsir, Tafsîrubnu Katsîr, [Dârut Thayyibah, 1999], juz IV, halaman 146).

Bahkan masih banyak Ulama yang lain yang menjelaskan tentang arti dari bulan Safar itu, Salah satuny adalah Ibnu Manzhur (wafat 771 H). Menurut beliau , ada beberapa alasan mendasar di balik penamaan bulan Safar, di antaranya:

  1. Sebagaimana penjelasan Ibnu Katsir;
  2. Orang Arab memiliki kebiasaan memanen semua tanaman yang mereka tanam, dan mengosongkan tanah-tanah mereka dari tanamanan pada bulan Safar; dan
  3. Pada Safar orang Arab memiliki kebiasaan memerangi setiap kabilah yang datang, sehingga kabilah-kabilah tersebut harus pergi tanpa bekal (kosong) karena mereka tinggalkan akibat rasa takut pada serangan orang Arab.


Lima Bukti Bulan Safar Bukan Bulan Kesialan
Habib Abu Bakar Al-Adni dalam salah satu mengatakan, ada beberapa bukti peristiwa yang menolak keyakinan masyarakat Jahiliah atas keyakinannya yang menganggap bahwa bulan safar merupakan bulan kesialan.

  1. Rasulullah S.A.W melangsungkan pernikahan dengan Sayyidah Khadijah pada bulan Safar;
  2. Pernikahan antara Sayyidina Ali dan Sayyidah Fatimah az-Zahra juga di bulan Safar;
  3. Hijrah Rasulullah saw dari Makkah ke Madinah bertepatan dengan bulan Safar;
  4. Perang pertama, yaitu perang Abwa terjadi pada bulan Safar, di mana umat Islam jusrtu mendapatkan kemenangan telak atas kaum kafir;
  5. Pada bulan Safar juga terjadi peperangan hebat yaitu perang Khaibar, dan kemenangan diraih oleh umat Islam.

Kelima peritiwa yang istimewa ini menjadi sebuah jawaban pasti terhadap kepercayaan banyak masyarakat awam khususnya orang Jahiliyyah tempo dulu yang beranggapan bahwa bulan Safar merupakan bulan yang identik dengan kesialan. Dan bisa di jawab dengan kelima kejadian itu bahwa sesungguhnya semua bulan itu adalah sama, tidak ada kesialan di dalmnya hanya saja itu merupakan takdir Alloh S.W.T yang mengiringi dinamika kehidupan mahluqnya.

Lalu Bagaimana Dengan Mitos Kesialan di Bulan Safar?

Sebagaimana jamak diketahui, banyak orang beranggapan dan bahkan ada yang meyakini, pada bulan safar akan terjadi musibah yang luar biasa dan akan terjadi cobaan melebihi bulan-bulan lainnya. Dalam hal ini Ibnu Rajab al-Hanbali (wafat 795 H) mengatakan, bulan Safar dan bulan lainnya tidak memiliki perbedaan sama sekali. Menurutnya sebagaimana dalam bulan lain, dalam bulan Safar dapat terjadi keburukan dan kebaikan. Dengan kata lain, tidak boleh menganggap bulan Safar diyakini sebagai bulan yang dipenuhi dengan kejelekan dan musibah. Beliau menegaskan:

وَأَمَّا تَخْصِيْصُ الشُّؤْمِ بِزَمَانٍ دُوْنَ زَمَانٍ كَشَهْرِ صَفَرٍ أَوْ غَيْرِهِ فَغَيْرُ صَحِيْحٍ

Artinya: “Adapun mengkhususkan kesialan dengan suatu zaman tertentu bukan zaman yang lain, seperti (mengkhususkan) bulan Safar atau bulan lainnya, maka hal ini tidak benar.”

Ibnu Rajab tidak membenarkan keyakinan seperti itu sebab semua bulan, zaman, dan tahun merupakan makhluk Allah swt, yang di dalamnya bisa saja terjadi suatu kesialan, bencana, dan musibah. Maka sangat tidak logis jika musibah hanya dikhususkan pada bulan Safar dan meniadakannya pada bulan-bulan lainnya.

Lebih tegas Ibnu Rajab menyatakan, barometer dari baik dan tidaknya suatu zaman tidak dilihat dari kejadian-kejadian yang terjadi di dalamnya. Menurutnya, semua zaman yang di dalamnya semua seorang mukmin menyibukkan diri dengan kebaikan, maka zaman tersebut adalah zaman yang diberkahi. Demikian pula sebaliknya. Ibnu Rajab berkata:

فَكُلُّ زَمَانٍ شَغَلَهُ المُؤْمِنُ بِطَاعَةِ اللهِ فَهُوَ زَمَانٌ مُبَارَكٌ عَلَيْهِ، وَكُلُّ زَمَانٍ شَغَلَهُ العَبْدُ بِمَعْصِيَةِ اللهِ فَهُوَ مَشْؤُمٌ عَلَيْه

Artinya: “Setiap zaman yang orang mukmin menyibukkannya dengan ketaatan kepada Allah, maka merupakan zaman yang diberkahi; dan setiap zaman orang mukmin menyibukkannya dengan bermaksiat kepada Allah, maka merupakan zaman kesialan (tidak diberkahi).”

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan, penyebab suatu zaman tidak diberkahi oleh Allah swt adalah dikarenakan banyaknya kemaksiatan yang dilakukan manusia. Begitu juga penyebab suatu zaman bisa diberkahi apabila di dalamnya orang sibuk dengan melakukan ketaatan dan kebaikan. Karenanya sangat wajar jika pada penjelasan di atas, Ibnu Rajab menolak anggapan atau keyakinan bahwa bulan Safar dianggap sebagai bulan kesialan yang di dalamnya tidak ada keberkahan sama sekali.

Demikian alasan di balik penamaan bulan Safar, serta serta jawaban atas anggapan dan keyakinan sebagian masyarakat perihal mitos kesialan yang diyakini akan terjadi pada bulan Safar. Anggapan demikian tidak layak dijadikan pedoman oleh orang beriman. Sebab, dengan meyakininya, akan berpotensi mengesampingkan Allah dengan segala otoritas-Nya, yang bisa saja memberikan pengaruh kepada siapa pun, atas persangkaannya kepada Allah swt. Semoga kita dijauhkan dari keyakinan keliru dan menyimpang dari ajaran Islam.

Wallohu A’lamu Bishowaab

Semoga Bermanfaat.

Sumber:

nu.or.id