Sosok Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan dan Perjalanan Intelektualnya

Sosok Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan dan Perjalanan Intelektualnya

Almunawwar.or.id – Kehadiran sosok seorang Ulama sebagai panutan masyarakat sekitar dan orang banyak itu sangat besar sekali dan begitu berasa sekali dampak manfaat dari keberkahan ilmunya, Terlebih jika sosok tersebut memiliki sisi kharismatik Ulama dan tokoh yang mempunyai kelebihan tersendiri dalam menguasai bidang ilmu tertentu yang bisa memberikan pelita tidak hanya bagi masyarakat sekitar, namun jauh di manfaatkan dan dikembangkan lagi oleh murid-muridnya.

Seperti kharisma dan kebersahajaan seorang Ulama seklaigus tokoh bagi masyarakat sekitar lebih tepatnya nama Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan yang di kenal oleh banyak orang sebagai Ulama yang sangat pandai dalam menguasai sebidang ilmu khususnya ilmu alat (Nahwu dan Shorop) Banyak para kiai beserta rombongan santrinya dari berbagai daerah di tanah air datang berziarah kekediamannya, Hal ini membuktikan betapa luhungnya keberkahan ilmu beliau.

Napak tilas dari perjalanan perjuangan seorang Ulama kharismatik seprti Syeikh Kholil khususnya di daerah Bangkalan Madura yang menjadi tempat kelahirannya sampai saat ini selalu padat di kunjungi oleh para peziarah sebagai bentuk penghormatan atau takdzim dari keberkahan ilmu yang beliau miliki, Dua hal yang ingin banyak orang mengetahui tentang beliau adalah perjalanan intelektual dan meneladani jejak dan perjuangannya, Berikut ulasan dari sosok beliau.

1. Perjalanan Intelektual Syaikhona Kholil
Syaikhona Muhammad Kholil pada masa kecil mendapatkan didikan sangat ketat dan telaten dari ayahnya, KH Abdul Lathif. Sejak kecil beliau sudah menunjukkan bakat dan memiliki keistimewaan, kehasusan akan ilmu, terutama ilmu fiqih dan nahwu. Beliau juga telah mampu menghafal nazham Alfiyah Ibnu Malik (1000 bait ilmu nahwu). Bahkan, beliau mampu menghafalkan nazham-nazham tersebut dengan terbalik dari belakang ke depan, dalam bahasa Madura dikenal dengan istilah nyungsang.

Melihat kecerdasan dan kehausan putranya untuk mendapatkan ilmu, kedua orang tuanya memahami dan mengerti akan kehausan putranya pada ilmu fiqih dan nahwu, akhirnya Syaikhona Kholil dititipkan ke berbagai pondok pesantren untuk menimba ilmu yang diharapkannya.

Dalamnya pemahaman dan analisis Syaikhona Kholil dalam Alfiyah tidak hanya terlihat ketika beliau masih muda, bahkan beliau membawanya sampai tua. Banyak orang yang bertanya tentang fenomena, peristiwa, atau persoalan kehidupan apa pun, bahkan terkait hal-hal yang ghaib, kemudian beliau jawab dengan satu dua bait nazham Alfiyah.

Hal ini dimaksudkan agar yang bertanya bisa berpikir lebih lanjut atau malah mau belajar Alfiyah. Selain itu, beliau merupakan sosok kiai yang sangat memberikan perhatian lebih kepada orang yang mampu menghafal Alfiyah.

Pengembaraan dalam menimba ilmu dimulai sekitar tahun 1850 M. Beliau pernah nyantri kepada Kiai Muhammad Nur di Pondok Pesantren Langitan Tuban, dilanjutkan nyantri di Pesantren Cangaan, Bangilan, Pasuruan, yang diasuh oleh Kiai Asyik. Setelah dari Pesantren Cangaan, beliau nyantri lagi ke Pesantren Keboncandi Pasuruan yang diasuh oleh Kiai Arif.

Selama nyantri di Keboncandi, beliau belajar kepada Kiai Nur Hasan yang masih keluarga dari Pondok Sidogiri yang berjarak 7 kilometer. Untuk mendapatkan ilmu, Khalil muda rela melakukan perjalanan yang sangat jauh setiap harinya. Dalam setiap perjalanan menuju pesantren, ia senantiasa menghafalkan surat yasin sehingga khatam berkali-kali. (Jamal Ghafir, Biografi Ulama Aswaja, 56).

Dari tulisan di atas dapat diambil teladan, bahwa Syaikhona Muhammad Kholil memiliki keteguhan dan pendirian yang kuat, ia tetap nyantri di Keboncandi walau harus tiap hari melakukan perjalanan demi mencari ilmu ke Sidogiri yang sangat jauh.

Sebenarnya, bisa saja beliau menetap di Sidogiri, sebab perekonomian orang tuanya cukup mapan untuk memberikan biaya pendidikannya. Kedua orang tuanya bukan saja seorang guru ngaji, tetapi juga seorang petani yang sukses. Akan tetapi, Kholil muda tidak lantas menikmatinya begitu saja. Beliau tidak mau merepotkan kedua orang tuanya. Beliau tetaplah menjadi anak yang mandiri. Oleh karenanya, selama nyantri di Pondok Pesantren Sidogiri ia tetap tinggal di Pondok Pesantren Keboncandi agar bisa menjadi buruh batik. Dari hasil buruh batik inilah ia memenuhi kebutuhannya sehari-hari.

Selama nyantri di Sidogiri, sikap rendah hati dan tawadhu’ sangat tampak darinya, hal itu sangat terlihat ketika akan memasuki kompleks pesantren, Syaikhona Kholil senantiasa melepas terompah (sandal)nya karena tawadhu’ kepada penghuni kubur yang berada di samping kompleks masjid Sidogiri. Dari sinilah beliau memiliki prinsip “sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui”. (Jamal Ghafir: 57).

Dalam perjalanan pencarian ilmu di berbagai pesantren, Syaikhona Kholil senantiasa menjalani hidup yang sangat prihatin, jauh dari kata mewah dan sempurna. Hal ini bukan dikarenakan ketidakmampuan dalam hal ekonomi, melainkan untuk menunjukan bahwasannya ia memiliki prinsip yang kuat dalam menjalani sebuah kehidupan. Ia sering menjadi khadam (pelayan) kiainya, mencuci baju, mengisi bak kamar mandi, mencucui piring, serta pekerjaan lainnya. Beliau juga sering menjadi juru masak bagi teman-temannya, sehingga ia mendapatkan makanan cuma-cuma.

Hidup prihatin inilah yang menjadikan ia kuat dalam menghadapi kehidupan. Bahkan, dalam beberapa kisahnya, beliau pernah menjadi kuli pemanjat kelapa yang dibayar 3 sen setiap 80 pohon kelapa. Apakah hasilnya dinikmati sendiri? Ternyata tidak, semua hasil yang didapatkan dari jerih payahnya beliau berikan kepada kiainya. Masya Allah

2. Meneladani Jejak dan Perjuangannya
Kisah pengembaraan Syaikhana Muhammad Kholil Bangkalan dalam mengembara untuk mencari ilmu dan kehausannya pada ilmu telah menjadi ibrah (pelajaran) dan uswah (teladan) bagi setiap santri dalam mendalami ilmu, bahwa belajar tidaklah sekadar membaca, menulis, menghafal, dan memahami, akan tetapi juga menghayati dalam rasa dan kebatinan yang paling dalam.

Keikhlasan dalam mencari ilmu sangat tampak darinya. Beliau tidak memperhatikan pahit getirnya kehidupan saat itu, karena yang ia kedepankan adalah ilmu, dengan harapan Allah ridha dengan ilmu yang didapatkan. Ia dapat membuktikan keikhlasannya ketika Allah swt mengujinya dengan hidup yang serba kekurangan, dan makan ala kadarnya melalui hasil keringatnya sendiri.

Selain itu, cinta, hormat, dan patuh kepada guru juga sangat tampat dari perangainya ketika mencari ilmu. Sikap ini dilakukan tentunya setelah berguru kepada siapapun. Apapun akan ia berikan kepada gurunya untuk membantu dan membuatnya ridha. Di hadapan gurunya, beliau selalu siap bersedia untuk diperintah melebihi budak di hadapan tuannya. Dengan ibarat, “jangankan harta, nyawa pun siap untuk dipertaruhkan demi gurunya.”

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Smber:
nu.or.id
almunawwar.or.id