Syarat Sah Shalat Berjamaah Menurut Kajian Ilmu Fiqih

Syarat Sah Shalat Berjamaah Menurut Kajian Ilmu Fiqih

Almunawwar.or.id – Melaksanakan shalat berjama’ah itu sangat di anjurkan sekali bagi setiap umat islam, Karena selain bentuk ibadah, shalat jama’ah adalah cara seorang muslim mengenal bagaimana cara menjalankan sebuah jama’ah sesuai dengan koridor hukum yang berjalan dalam hal ini dalah kontek ilmu yang mengatur dan menjelaskan tata cara shalat berjama’ah yaitu ilmu fiqih agar sesuai dengan sebuah keharusan dalam beragama.

Shalat berjama’ah juga memiliki hikmah, keunggulan atau keutamaan dalam pelaksanaannya yang bisa di rasakan oleh yang senantiasa mengerjakannya. Shalat berjama’ah merupakan cara membangun kebersamaan dengan Imam sebagai nahkoda yang mengendalikan sebuah kendaraan jama’ah untuk senantiasa shalat tersebut syah sesuai dengan kriteria hukum yang berlaku, Shalat jama’ah juga merupakan bentuk dari nilai kebersamaan, sosial dan tentunya seiring sejalan antara imam dan makmum.

Shalat berjama’ah di tinjau secara hukum itu adalah sunat muakad artinya sunat yang di kuatkan, bahkan ada Ulama yang memberikan fatwa bahwa shalat berjama’ah itu hukumnya fardhu kifayah saking besarnya hikmah, keutamaan dan juga pahala dalam pelaksanaannya. Termasuk dari syarat shalat berjama’ah atau istilah dalam fiqih itu adalah Qudwah yaitu turutnya jama’ah (Makmum) terhadapa seorang Imam (yang memimpin shalat). Berikut syarat syah Berjam’ah

1. Sudah masuk waktu sholat, seperti contoh sholat dzuhur sudah masuk waktu zawal.
2. Suci dari hadats kecil & besar.
3. Baik badan, pakaian ataupun tempat suci dari Najis.
4. Menutup aurot, bagi laki-laki antara pusar dan lutut sedangkan bagi wanita merdeka seluruh badan kec wajah & telapak tangan.
5. Menghadap Qiblat.
6. Terdiri dari 2 musholli (orang sholat) atau lebih, yang salah satunya jadi imam / pemimpin shalat.
7. Seorang lelaki tidak boleh makmum pada wanita begitu juga kepada anak kecil yang belum tamyiz. Dalam madzhab Syafi’i : Seorang laki-laki boleh bermakmum kepada anak laki-laki kecil asal sudah tamyiz. Dalam kitab I’anatuththalibin 2/47 :

تصح أيضا قدوة الكامل بالصبي لأن عمرو بن سلمة بكسر اللام كان يؤم قومه على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم وهو ابن ست أو سبع سنين كما رواه البخاري

Dan juga sah makmumnya laki-laki dewasa dengan anak laki-laki, karena ‘Amr bin Salimah mengimami kaumnya pada masa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam pada usia 6 atau 7 tahun, sebagaimana hadits riwayat Bukhari. Wallaahu A’lam.

(وَ) تَصِحُّ الْقُدْوَةُ (لِلْكَامِلِ) وَهُوَ الْبَالِغُ الْحُرُّ (بِالصَّبِيِّ) الْمُمَيِّزِ لِلِاعْتِدَادِ بِصَلَاتِهِ، «وَلِأَنَّ عَمْرَو بْنَ سَلِمَةَ بِكَسْرِ اللَّامِ كَانَ يَؤُمُّ قَوْمَهُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – وَهُوَ ابْنُ سِتٍّ أَوْ سَبْعٍ» ، رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ.وَلَكِنَّ الْبَالِغَ أَوْلَى مِنْ الصَّبِيِّ وَإِنْ كَانَ الصَّبِيُّ أَقْرَأَ أَوْ أَفْقَهَ لِلْإِجْمَاعِ عَلَى صِحَّةِ الِاقْتِدَاءِ بِهِ بِخِلَافِ الصَّبِيِّ، وَقَدْ نَصَّ فِي الْبُوَيْطِيِّ عَلَى كَرَاهَةِ الِاقْتِدَاءِ بِالصَّبِيِّ

Sah qudwah lelaki merdeka dan baligh kepada anak kecil yang sudah tamyiz, tapi dinash dalam kitab buaithi bahwa hukumnya makruh. [ Mughnil muhtaj ].
8. Seorang imam dipilih yang bagus bacaan qur’annya.
9. Seorang Makmum wajib niat (iqtida’) mengikuti Imam ketika Takbirotulihrom.
10. Antara Makmum dan Imam tidak ada pembatas yang menghalangi.

Disamping mengetahui syarat syah berjam’ah perlu diketahui hal lain yang berkaitan dengan shalat berjama’ah yaitu Syarat orang yang di makmumi karena itu angat mempengaruhi terhadap keabsahan dari shalat berjam’ah itu sendiri, Berikut syaratnya:

شروط من يقتدى به

1 – Makmum tidak mengetahui kebatalan sholat imam atau yaqin imam tidak batal sholatnya.

أن لا يعلم المقتدي بطلان صلاة إمامه أو يعتقد ذلك

2 – Imam bukan orang amiy/orang yang baca’an rukun ucapannya rusak

أن لا يكون أميا، والمقتدي قارئ

3 – Imam bukan wanita

أن لا يكون امرأة، والمقتدي رجل

Tatacara bermakmum :

كيفية الاقتداء

1 – Makmum tidak boleh mendahalui imam di tempatnya

أن لا يتقدم المأموم على الإمام في المكان

2 – Mengikuti imamam dalam gerakan dan rukun-rukun fi’li yang lainnya.

أن يتابعه في انتقالاته وسائر أركان الصلاة الفعلية

3 – Mengetahui pergerakan imam

العلم بانتقالات الإمام:

4 – Tidak ada pemisah yang jauh antara imam dan makmum.

أن لا يكون بين الإمام والمأموم فاصل مكاني كبير

5 – Makmum berniat jama’ahatau makmum ( sa’at takbirotul ikhrom ).

أن ينوي المقتدي الجماعة أو الاقتداء

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
piss-ktb.com
almunawwar.or.id